53

1.9K 131 2
                                        

Hai sayangku.

***

Jevian menatap Gabriel yang senyum-senyum tak jelas. Namun sorot matanya memperlihatkan kesedihan yang mendalam.

"Dasar gila" lirih Jevian.

"Anak nakal, apa yang kau katakan hah?" Tanya Gabriel.

"Tidak ada" jawab Jevian dengan singkat.

Gabriel masih tersenyum, mengingat suara Gara yang masih terngiang di telinganya.

"Cepatlah sembuh, setelah ini kita akan pindah" ujarnya.

"Apa?! Kenapa tiba-tiba pindah?" Tanya Jevian tak terima.

Lalu bagaimana caranya untuk mendekati Gara, jika mereka pindah. Dia tahu, pindah yang dimaksud Gabriel. Bukan hanya pindah keluar kota saja.

Tetapi keluar negeri, dan itu hal yang paling menyebalkan menurutnya.

"Nenek mu sudah tua, dia harus di dampingi cucunya sebelum menutup usianya" ujar Gabriel.

Jevian tertawa kecil, alasan yang konyol. Neneknya bahkan masih sehat-sehat saja.

Namun melihat Gabriel yang penuh tekad seperti itu, pasti ada alasan yang lebih serius. Jevian tak bertanya lebih lanjut, dia memainkan ponselnya.

***

Reksa terbangun di ruangan yang asing, namun bau ruangan ini sangat familiar. Dia menoleh ke sampingnya, ada seseorang juga yang masih tertidur membelakanginya.

Menatap pada jam di dinding, Reksa mendudukkan dirinya. Kepalanya terasa berat, mungkin karena terlalu banyak minum semalam.

Tapi, siapa yang mengganti pakaiannya. Dimana kemeja yang dipakainya semalam? Sekarang hanya ada piyama yang sedikit lebih besar, melekat di tubuhnya.

Dia mengguncang tubuh orang di sampingnya. Tak lama orang itu terbangun.

"Apa?" Tanya orang itu.

"Heksa dimana baju ku? Siapa yang menggantinya?" Tanya Reksa.

"Kau muntah semalam, bajumu mungkin di cuci. Aku yang menggantinya" jawab Heksa.

Dia sangat kerepotan mengurusi Reksa yang mabuk, semalam. Karena sangat kesal padanya, Reksa banyak minum. Hingga berakhir muntah.

"Mau sup pereda mabuk?" Tanya Heksa.

"Kenapa juga masih bertanya" sarkas Reksa. Dia masih kesal pada Heksa.

Heksa mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Sedangkan Reksa pergi ke kamar mandi.

Dia cukup kagum dengan kamar Heksa, karena sangat luas dan interiornya yang begitu mewah. Setiap detailnya membuat dia tidak bisa untuk tidak tertarik.

Reksa mencuci muka, dan melihat pantulan dirinya di cermin. Setelah ini, dia akan kembali ke rumahnya dan membereskan kekacauan di perusahaannya.

Setelah semuanya selesai, dia akan mencoba mendatangi mansion Grevanska. Setidaknya dia harus mencobanya sekali saja.

"Apa kau mati?!" Tanya Heksa dari luar.

Reksa keluar, menatap sinis pada Heksa. Sedangkan Heksa masuk ke kamar mandi dengan tawa yang menggelegar.

Dia sangat senang mengganggu Reksa.

G A R ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang