Haii sayangkuu
***
"Tidak"
"Apa? Tapi kenapa?"
"Selama masa pendidikannya, dia akan tinggal bersamaku. Mempelajari banyak hal tentang Revandra. Karena aku tidak bisa setiap saat mengajarinya, tapi dia tetap harus berada dalam jangkauan ku" ujar Setyo.
Gara mengepalkan tangannya di bawah meja, Arshavin menghela nafas. Ziel dan Zoe masih berusaha tenang di tempat duduk mereka.
Setelah semalam berbicara dengan Gara, siang ini mereka bertemu di sebuah restaurant. Setyo, pria tua itu duduk dengan tenang dan berwibawa.
"Anda bisa saja mengunjunginya jika ada waktu luang, Grevanska juga akan mengajarinya menjadi seorang pewaris" ujar Arshavin.
"Arshavin, menjadi seorang pewaris bukan hanya mengendalikan perusahaan saja. Namun, dia harus benar-benar memahami apa yang di warisinya" balas Setyo.
"Saya mengerti, hanya saja biarkan Gara tetap tinggal bersama kami" ujar Arshavin tak mau mengalah.
Bagaimana pun juga, dia telah memberi harapan yang begitu besar pada Gara semalam. Tidak mungkin dia mematahkan harapan itu.
"Dengar, Gara akan tinggal bersamaku hanya selama masa pendidikannya saja. Setelah selesai maka itu terserah dia, mau kembali tinggal bersama mu ataupun tinggal sendirian itu bukan urusan ku lagi" jelas Setyo.
Setyo orang yang sangat berhati-hati, dia tidak mau ada celah kegagalan sedikit pun dalam usahanya. Maka dari itu, dia juga tidak mau Gara memiliki celah seperti itu.
Dia sangat yakin sedari dulu, bahwa Gara sangat cocok menjadi pewaris Revandra. Bukan hanya tentang harta saja yang akan di warisi Gara, tapi semua tentang Revandra.
Dari nama hingga keahlian seorang Revandra, Gara harus bisa mewarisinya. Lantas mengapa dia tidak memilih cucunya yang lain saja, yang lebih berpotensi daripada Gara?
Menurutnya itu berbahaya, mereka memiliki banyak celah untuk gagal. Sedangkan Gara masih lah awam terhadap hal-hal yang akan di warisinya.
Rasanya seperti akan menggambar di sebuah kertas kosong, begitulah kondisi Gara di mata Setyo saat ini.
Arshavin menatap pada Gara yang tampak murung. Sepertinya usahanya akan sia-sia mempertahankan Gara di sisinya.
"Maaf tetapi bukankah itu hanya pendidikan, anda bisa mengirim orang-orang anda untuk mengawasinya selama masa itu. Saya yakin anda juga akan begitu sibuk dengan urusan anda sendiri nantinya dan tidak memiliki banyak waktu untuk mengawasi Gara" ujar Arshavin.
Setyo tersenyum tipis, dia tahu apa yang menjadi kekhawatiran Arshavin. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan Gara terus berada di sisi mereka. Menurutnya itu hanya akan membuat Gara menjadi semakin lemah saja.
Melihat bagaimana cara Grevanska yang tidak bisa tegas pada Gara, membuatnya tidak bisa diam saja.
"Arshavin, biar ku tanya satu hal padamu. Apa keahlian Gara yang kau ketahui selain melukis?" Tanya Setyo.
Arshavin terdiam sejenak, dia tampak memikirkannya sekarang. Karena dia selalu membatasi pergerakan Gara, tak ada keahlian yang begitu menonjol dari Gara selain melukis.
KAMU SEDANG MEMBACA
G A R A
AcakRumitnya takdir membuat Gara bingung, dari yang di buang oleh keluarga ayahnya. Sampai mereka mengemis bahkan bersujud di kakinya hanya untuk mendapatkan maaf darinya. "Bukankah Gara memang pembawa sial?" "Ck! Gue gak suka banget sama logika gue!" ...
