54

2.6K 151 5
                                        

Hai sayangku.
Semoga kalian baca ini deh.

Waktu bikin cerita ini tuh waktu itu, sebenernya aku cuma fomo aja. Makanya banyak banget kesalahan-kesalahan dalam penulisan aku sebelumnya. Apalagi di chapter-chapter paling atas.

Masih banyak hal yang kurang. Karena dari awal sampai sekarang, aku belum pernah benerin lagi cerita ini. Jadi tolong banget ya, kalau semisal kalian gak nyaman baca cerita ini boleh kok kalian skip.

Bukan berarti aku gak nerima kritik dan saran kalian. Cuman kadang tuh ada yg cuma ninggalin kritik doang. Seolah gak bisa menilai sisi bagusnya.

Maaf ya, aku juga manusia biasa yang punya perasaan.

Hehe, happy reading luvv.

***

Everard memasuki mansionnya sendirian. Putranya mungkin tengah istirahat, setelah perjalanan panjang beberapa hari terakhir.

Dia sendiri baru kembali setelah seharian bekerja. Seperti biasa, mansion yang luas ini selalu sepi dan dingin.

Dia bukannya tidak tertarik untuk menikah, hanya saja dia belum bisa melupakan wanita tercintanya. Padahal wanita itu sudah bahagia dengan pilihannya.

"Tuan, ada tamu untuk anda" ujar kepala pelayan.

"Aku sudah mengatakannya, jangan menerimanya tamu hari ini" balas Everard. Bagaimanapun juga, dia adalah manusia. Setelah melakukan perjalanan bersama putranya, dia tidak istirahat.

Dia sebenarnya ingin beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaannya, itulah mengapa dia tidak mengizinkan siapapun bertamu.

"Maaf tuan, tetapi saya tidak bisa menolak tamu yang satu ini" ujar kepala pelayan.

Everard melambaikan tangannya, dia menuju ruang tamu. Baru saja ingin mengeluarkan suaranya, dia kembali terdiam.

Menatap pada remaja laki-laki yang tertidur di sofa, dengan masih mengenakan seragam sekolah dan sepatunya. Tasnya berada di atas meja.

Everard tersenyum tipis, dia menghela nafas pelan. Dengan perlahan mendekatinya dan membuka sepatu remaja laki-laki itu.

"Pasti kabur dari mereka" gumamnya.

Dia menggendong remaja laki-laki itu, meskipun agak sulit. Dia membawanya ke kamar putranya, membuka pintu secara perlahan karena takut mengusik penghuni kamarnya yang tengah tertidur juga.

Dia merebahkan tubuh remaja laki-laki itu dengan pelan, setelah selesai dia kembali ke kamarnya sendiri.

Sampai waktu makan malam tiba, kedua anak itu turun bersama. Dan Everard sudah menunggu mereka di ruang makan.

"Tidur kalian nyenyak?" Tanyanya.

"Ya ayah" jawab putranya.

"Ya uncle" jawab Gara.

Anak itu tidak pulang ke mansion Grevanska, dia ingin menenangkan dirinya. Dan mansion Everard menjadi pilihannya.

Sebenarnya dia hendak ke rumah sakit tadi, untuk menjenguk Steve. Tapi tidak jadi, karena dia pikir Steve butuh waktu istirahat yang cukup selama masa pemulihan nya.

"Kabur dari Daddy mu?" Tanya Everard.

Gara mengangguk, dia memang tidak mengabari siapapun. Lagipula, pasti Everard juga sudah memberitahu mereka.

"Mungkin mereka tengah cemas mencari mu" ujar Everard.

"Eh? Uncle tidak memberitahu Daddy?" Tanya Gara.

G A R ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang