Haiii
Happy reading!
Arshavin terlihat mondar mandir, sembari sesekali menatap jam tangannya. Sekretarisnya yang melihat hanya bisa menghela nafas.
Dia tampak begitu gugup, terlihat dari gestur tubuhnya.
"Tuan sangat gugup bukan? Anda tidak pernah seperti ini, bahkan ketika bertengkar dengan mendiang tuan besar" ujar Sekretarisnya.
"Aih, jangan ingatkan aku dengan hal buruk itu" balas Arshavin.
Sudah satu tahun sejak kedua orangtuanya meninggal. Arshavin hidup sendirian di mansion yang luas itu.
Anak-anaknya pergi mengembara, mencari jalan mereka sendiri. Sebagai orang tua, Arshavin tidak pernah melarangnya.
Selagi itu tidak bertentangan dengan kehidupan normal layaknya manusia. Arshavin akan selalu mendukung mereka.
Baginya, kebahagiaan mereka adalah hal yang utama. Dan kenyamanan hidup mereka adalah tanggung jawabnya.
Mengingatkannya pada sang papa yang sudah tiada, meskipun dulu mereka pernah bertengkar. Namun pada akhirnya, papanya tetap menerimanya kembali saat dia membutuhkan pertolongannya. Bahkan tanpa ragu sedikitpun.
"Mereka bilang akan sampai di jam empat, tapi ini sudah hampir jam lima" gerutu Arshavin.
"Tuan, ini baru pukul empat lebih empat puluh lima menit. Belum pukul lima, mungkin lima menit lagi" ujar Sekretarisnya.
Dengan begitu, Arshavin terdiam tapi kakinya memang tak mau diam. Masih saja mondar-mandir, menarik perhatian orang-orang.
Semenjak semua tuan mudanya meninggalkan mansion. Tuannya jauh lebih terbuka, banyak mengobrol. Bahkan tak ragu bergabung dengan para pekerjanya, jika mereka sedang bersantai.
Karena tidak memiliki banyak orang yang bisa di ajak bicara sebelumnya. Jadi Arshavin banyak berbicara dengan para pekerjanya.
Itu lebih nyaman menurutnya, dari pada harus berbicara dengan para kenalannya. Yang ujungnya pasti membahas bisnis.
"Tuan, apa anda akan pergi ke pesta ulang tahun perusahaan yang kemarin bekerja sama dengan kita?" Tanya Sekretarisnya.
"Itu tidak penting, ada banyak hal yang lebih penting daripada pesta seperti itu" jawab Arshavin.
Memang, dia jadi jarang menghadiri pesta-pesta seperti itu. Biasanya hanya sekretarisnya yang akan mewakilinya.
Karena tidak ada anak-anaknya yang bisa di ajak, lebih baik tidak pergi sekalian saja. Toh pestanya juga hanya begitu-begitu saja, membosankan.
"Ini sudah lewat sepuluh menit, tapi mana? Mereka bahkan tidak terlihat seujung rambut pun" ujarnya.
"Tuan-"
"Daddy!! Daddy!!"
Panggil seseorang, Arshavin segera menoleh menatap Gara yang berlari ke arahnya. Sean, Ziel dan Zoe mengikutinya di belakang sembari membawa koper-koper mereka dan milik Gara.
Arshavin tersenyum lebar menyambut mereka. Dia merentangkan tangannya bersiap memeluk putranya.
Namun Gara justru melewatinya, membuat senyumnya lenyap seketika. Dia membalikkan badannya, menatap pada Gara dan Steve yang saling berpelukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
G A R A
DiversosRumitnya takdir membuat Gara bingung, dari yang di buang oleh keluarga ayahnya. Sampai mereka mengemis bahkan bersujud di kakinya hanya untuk mendapatkan maaf darinya. "Bukankah Gara memang pembawa sial?" "Ck! Gue gak suka banget sama logika gue!" ...
