Happy reading!!!
Gara menatap pada langit sore yang begitu cerah. Di bawah sana, di sebuah taman. Orang-orang saling bercengkrama, melepaskan rindu mereka. Dia merasa deja vu melihat mereka, dia menggelengkan kepalanya pelan.
Karena kesibukannya, mereka tidak bisa selalu berkumpul seperti ini. Dan hari ini, pertama kalinya mereka berkumpul seperti ini.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa tidak turun. Bergabung dengan mereka?" Tanya Arshavin.
"Daddy, kemarilah" jawab Gara.
Arshavin mendekatinya, dia ikut duduk dan menatap pada putranya. Ada perasaan bangga setiap kali melihat Gara.
"Daddy, dulu aku tidak pernah berani bermimpi untuk memiliki kehidupan seperti ini" ujar Gara.
"Kenapa?" Tanya Arshavin.
"Ya ... karena terlalu tinggi, dan pasti sulit di gapai. Aku hanya berani bermimpi untuk bisa keluar dari neraka yang mereka buat untukku" jelas Gara.
Arshavin tak membalas perkataannya, dia terdiam mendengarnya. Hidupnya memang banyak berubah setelah kehadiran Gara.
Gara yang saat itu sulit di ajak bicara, membuatnya harus terus berusaha agar Gara mau berbicara padanya. Hal itu juga yang membuat Arshavin tidak ragu lagi untuk meminta bantuan pada Genandra.
"Oh benar, aku belum menemui grandma dan grandpa" ujar Gara.
"Temui lah, mereka juga pasti merindukan cucunya. Ajak Sean bersama mu" ujar Arshavin.
Gara mengangguk, dia bangkit dari duduknya dan segera keluar dari kamarnya. Mencari Sean yang ternyata tengah mengobrol dengan Nick.
Mereka tampak begitu akrab, padahal belum lama bertemu. Jika tidak salah, semalam dia juga berebut ingin tidur bersama Sean dengan Nick.
Pada akhirnya dia mengalah, membiarkan Nick yang tidur dengan Sean. Sebenarnya dia hanya berniat mengganggu Nick saja, sangat menyenangkan melihat wajah kesal anak itu.
"Kak, aku akan pergi menemui grandma dan grandpa. Daddy berkata, aku harus mengajakmu" ujar Gara.
Sean mengangguk, kemudian tersenyum dan bangkit dari duduknya. Nick juga ikut berdiri.
"Aku harus mengerjakan beberapa hal, kalian pergilah" ujar Nick.
"Kamu tidak mau ikut?" Tanya Gara.
"Aku tidak bisa, aku telah melewatkan satu jam belajar ku" jawab Nick.
"Belajar bisa nanti lagi bukan? Ikutlah" ujar Sean.
"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melewatkannya lagi" balas Nick.
Gara tak mengerti lagi, dia tahu Everard bukanlah tipe orang yang akan memaksa Nick untuk terus belajar. Tapi sepertinya itu memang benar-benar keinginan Nick.
Pemuda itu tumbuh menjadi anak yang luar biasa membanggakan. Nick seolah memanfaatkan segala hal yang dimiliki ayahnya. Dia mengejar dunianya dengan begitu giat. Tidak heran jika dia menuruni sifat Everard yang kaku.
"Baiklah, kami tidak memaksa mu. Tapi jangan terlalu berlebihan, jika ada yang sulit tanyakan saja pada Gara" ujar Sean.
"Kenapa aku?" Tanya Gara.
"Oh bukankah kamu cukup pintar" jawab Sean.
"Iya, tapi-"
"Tuan muda, ini bunga yang anda minta" ujar asistennya.
Gara menerimanya, Sean juga menerimanya. Nick sendiri segera pergi, dia memang anak yang ambisius.
Keduanya pergi berjalan beriringan menuju taman belakang, melewati taman itu. Dan sampailah mereka di sebuah tempat yang tidak bisa sembarangan di kunjungi oleh orang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
G A R A
AcakRumitnya takdir membuat Gara bingung, dari yang di buang oleh keluarga ayahnya. Sampai mereka mengemis bahkan bersujud di kakinya hanya untuk mendapatkan maaf darinya. "Bukankah Gara memang pembawa sial?" "Ck! Gue gak suka banget sama logika gue!" ...
