Haii!
Happy reading!
***
Heksa menatap pada ranjang rumah sakit. Itu bukan tempat VIP, jadi banyak pasien lainnya di sana. Enam tahun berlalu begitu saja, selama itu juga dia tidak pernah berhenti untuk berusaha menghancurkan hidup Gabriel.
Ya, jika karma memiliki bentuk mungkin itu adalah Heksa. Karma bagi Ayah dan kedua adiknya.
Mereka telah menanam terlalu banyak benih karma di masa lalu, dan kini mereka sedang memanen hasilnya.
Setelah perusahaan Gabriel mengalami kebangkrutan, Jevian tidak melanjutkan pendidikannya. Dia mencari kerja kesana-kemari.
Namun tidak semudah itu, Heksa menghalangi jalannya. Dia tidak bisa masuk ke salah satu perusahaan besar manapun, bahkan ke perusahaan kecil pun dia tidak bisa masuk.
Sungguh dia tidak mengerti lagi, mengapa Heksa begitu tega padanya. Padahal dia sendiri juga tahu, bahwa Gabriel saat ini sudah sakit-sakitan. Membutuhkan biaya pengobatan yang begitu besar. Dan Heksa tak mau mengeluarkan uangnya sepeserpun untuk membiayainya.
Heksa, pria itu hanya menatap Gabriel yang duduk melamun sedari tadi. Orang-orang di sekelilingnya di jenguk oleh keluarga mereka. Hanya ranjangnya saja yang sepi.
Dia tidak berniat mendekatinya sedikitpun, setidaknya sekarang dia sudah memiliki kepuasan sendiri melihat Gabriel menderita seperti itu. Tubuhnya kurus sekali, uban di rambutnya sudah banyak. Padahal usianya belum terlalu tua.
Tapi fisiknya melebihi orang tua, sekedar berdiri saja dia tidak kuat. Sehari-harinya hanya bisa berbaring ataupun duduk di ranjangnya. Terkadang jika ingin ke kamar mandi maka harus meminta bantuan orang di sekitarnya.
Setelah cukup lama menatapnya, Heksa pergi. Biarlah Gabriel menikmati sendiri hasil panennya selama ini.
Dalam perjalanan pulangnya, angin berhembus menerpa wajah tampannya. Heksa menatap langit sore yang cukup cerah.
Dia sudah lama tidak mengetahui tentang Gara. Selama ini selalu sibuk mencari cara menghancurkan perusahaan Gabriel.
Dia tidak tahu bagaimana kabar Gara sekarang. Dulu dia sangat berambisi, ingin membuat Gara tinggal di sisinya. Tapi setelah sadar bahwa hal itu hanya akan menambah luka bagi Gara, Heksa berhenti memikirkannya.
Terkadang dia mengawasinya, terkadang juga tidak. Biarlah mereka menjalani kehidupan masing-masing, toh jikapun Heksa terus mengawasinya itu tidak akan mengubah apapun.
Tentang Reksa, dia masih bekerja disisinya. Tanpa henti, dan itu cukup menyiksa. Bagaimana tidak, Heksa membuatnya bekerja seharian penuh.
Waktu istirahatnya hanya sedikit, kadang bisa tertidur dan kadang tidak sama sekali. Makan pun seperlunya saja. Heksa tak main-main, dia menyiksanya dengan cara yang lebih kejam dari hukuman apapun.
"Tuan, saya mendapat kabar duka" ujar Asistennya.
"Siapa itu?" Tanya Heksa.
"Tuan dan nyonya Grevanska, mereka baru saja meninggal sekitar satu jam lalu" jawab Asistennya.
Heksa menghentikan langkahnya, dia menatap pada taman rumah sakit. Anak-anak kecil masih ada yang bermain di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
G A R A
AcakRumitnya takdir membuat Gara bingung, dari yang di buang oleh keluarga ayahnya. Sampai mereka mengemis bahkan bersujud di kakinya hanya untuk mendapatkan maaf darinya. "Bukankah Gara memang pembawa sial?" "Ck! Gue gak suka banget sama logika gue!" ...
