Reksa menyunggingkan senyumnya yang menawan. Dia menatap pria yang seumuran dengannya.
"Aku jelas tahu, Heksa adalah orang yang bertele-tele. Dia tidak akan menargetkan mu langsung, tapi tentu menghancurkan mu secara perlahan" ujarnya.
Meskipun mereka tidak tumbuh bersama, namun sedikit banyaknya Reksa mengetahui sifat Heksa. Kakaknya itu sangat suka bermain-main.
"Apa yang kau inginkan? Aku tidak memiliki banyak waktu" ujar pria muda itu.
"Mudah saja, ikut denganku" jawab Reksa.
Pria itu berdecih pelan, Reksa juga sama saja suka bertele-tele. Hanya saja mungkin dia tidak menyadarinya.
"Kau juga seharusnya tahu, bahwa Heksa tidak pernah main-main dengan ucapannya" ujarnya.
Reksa tertawa pelan, dia tentu tahu. "Benar, begitu pula dengan ku" balas Reksa.
Setelah mengatakan itu, pria muda di hadapannya jatuh pingsan karena dipukul dari belakang. Mereka bergegas memasukkan pria itu ke dalam mobil.
Sedangkan Reksa berjalan santai menuju mobilnya sendiri. Siapa yang paling mengenal Heksa selain dirinya? Tentu tidak ada.
Bahkan ayah mereka sendiri pun sulit menebak apa yang ada di dalam pikiran Heksa. Namun tidak dengan Reksa, dia mengetahui semua tentang Heksa.
Ayah mereka tidak tahu bahwa Heksa telah melenyapkan seluruh keluarga Anarghya, namun Reksa mengetahuinya. Dia juga mengetahui bagaimana cara Heksa menghabisi mereka semua.
"Bodohnya, mengira aku tak mengetahui apapun tentang kembaran ku sendiri" gumam Reksa.
Bagaimanapun juga, dialah yang selalu menjadi tempat keluh kesah seorang Heksa. Dia juga yang memberikan ide pada Heksa untuk melenyapkan seluruh keluarga Anarghya.
Dia tahu, keluarganya sudah hancur lebur setelah kematian bundanya. Dia sudah menyadari hal itu sejak lama.
Dia ingin tumbuh bersama Heksa dan Jevian selayaknya seorang saudara. Namun hal itu tidak bisa di lakukan nya.
Mereka di didik dengan cara masing-masing, mereka di latih untuk tumbuh sesuai kemauan tetua rumah. Sebenarnya tidak pernah ada interaksi hangat sekalipun di antara mereka.
Sekalipun Jevian yang serumah dengannya, sangat jarang mereka berinteraksi. Reksa selalu merasa kesal dengan hal itu.
Sebagai pelampiasan nya, dia selalu menyakiti Gara dengan kesadaran penuh. Berkali-kali dia hampir melenyapkan nyawa anak itu, saat dia sedang mabuk.
Ditambah dengan provokasi dari orang-orang di sekitarnya, membuat seluruh rasa bersalah di hati Reksa hilang begitu saja. Tergantikan dengan rasa wajar, ya wajar jika Gara mendapatkan semua itu menurutnya.
"Memikirkan Sagara, memang begitu menyenangkan. Namun karena itu, kau selalu lupa tujuan awal mu"
Reksa menoleh kebelakang mendengar suara yang familiar itu. Dia terkejut dengan kehadiran Heksa yang secara tiba-tiba sudah duduk di dalam mobilnya.
Padahal dia yakin, dia mengunci mobilnya tadi. Itu bahkan tidak bisa menghalangi kegilaan seorang Heksa.
"Sejak kapan?" Tanya Reksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
G A R A
RandomRumitnya takdir membuat Gara bingung, dari yang di buang oleh keluarga ayahnya. Sampai mereka mengemis bahkan bersujud di kakinya hanya untuk mendapatkan maaf darinya. "Bukankah Gara memang pembawa sial?" "Ck! Gue gak suka banget sama logika gue!" ...
