Pasien No. 56

5.8K 405 60
                                        

Beka semalam menumpang tidur di kamar Rona dan terkejut saat bangun mendapati Rona sedang belajar di bawah pencahayaan yang minim. Hanya sebuah lampu belajar dengan nyala hangat di tengah ruangan gelap.

"Masih jam tiga," kata Rona saat menyadari Beka terbangun dan sedang mencari ponselnya di seluruh permukaan kasur. "Itu hape lo di kursi."

Benar rupanya. Masih jam 3 lewat 20 menit.

Dengan mata masih setengah terpejam, Beka bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai dia menghampiri dan melihat apa yang Rona lakukan.

Laptop dalam keadaan mati dan tampak dikelilingi oleh dua buku teks tebal yang telah penuh tempelan sticky notes. Ada dua buku tulis yang penuh catatan warna-warni, beberapa pena dan highlighter, dan setumpuk kertas yang tampak usang.

"You're studying ... economy?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Beka yang menyadari pada secarik kertas terdapat banyak sekali coretan angka. Sepertinya Rona sedang mencoba menghitung jumlah uang dengan menambahkan hingga coretannya mengisi setengah kertas A4.

Rona yang sedang sibuk meniup Popmie gorengnya melirik sekilas pada Beka yang masih setengah sadar. "Not really," jawabnya singkat lalu melahap mie. "Just doing some simple math."

Dari dua kertas yang secara acak Beka ambil dan perhatikan, pria itu baru sadar yang Rona hitung adalah jumlah uang. Dan dari kertas itu pula Beka tahu bahwa yang dihitung adalah uang milik ayahnya. Selain dua kertas yang penuh coretan, ada nota dan kwitansi pelunasan hutang serta beberapa fotokopi bukti transfer. Tempo hari Rona memintanya membantu menyortir saat di apartemen, jadi Beka mulai familiar.

"Sempat tidur?" Beka mengembalikan kertas yang dilihatnya lalu berdiri dengan satu tangan bertolak di pinggang. Dia mengedarkan pandangannya dan melihat ada satu mangkok kotor dengan sisa potongan mie kecil serta kuah dan satu bungkus mie cup instant dalam posisi ditumpuk. Di sampingnya ada sebotol minuman energi dan sebotol teh kemasan. "Kenapa nggak bilang mau bergadang? Kan bisa gue bikinin snack."

"Nggak bisa tidur, jadi gue belajar biar ngantuk." Rona mengelap sudut bibirnya dari bumbu. "Dan tiba-tiba kepikiran soal hutang Bapak."

Mengisi waktu atau menunggu ngantuk dengan belajar memang kebiasaan lama Rona, tapi melihat bagaimana kekasihnya terjaga seperti sekarang, tampaknya tumpukan kertas hutang itu penyebabnya.

"What did you find so far?"

"Nothing new. Masih sama kayak waktu pertama gue liat dan hitung. Bapak udah melunasi hutang-hutangnya sebelum meninggal dan sisanya—hutang makan dan rokok di sekitar kosan—udah tercatat dan gue lunasi." Rona menunduk, mengaduk mie gorengnya tanpa minat, dan menghelakan napas. "Sama sekali nggak ada catatan yang bilang Bapak punya hutang ke Tante Asih atau yang lain."

"Mungkin emang bokap lo nggak pernah berhutang ke mereka?" cetus Beka seraya mengelap bekas makanan menempel di pipi kekasihnya. "Dari cara mereka tiba-tiba minta anaknya dibiayai sekolah juga kan keliatan, Ron. They only want money. At all cost."

"Yeah, I know," gumam Rona yang kemudian mengambil secarik kertas. Yang Beka tahu, tanpa sepengetahuan keluarga, Rona diam-diam memotret semua tagihan yang dipegangnya saat om dan tantenya datang. Semua itu dikompilasi menjadi satu foto utuh dan dicetak untuk dipelajari. Yang sekarang Rona pegang adalah catatan biaya sekolah ponakannya.

Sambil bersandar pada meja, Beka memperhatikan wajah kekasihnya. "What's on your mind?"

"Confusion, I guess?" Wanita itu menyerahkan kertas tersebut pada Beka. "Gue tau sulitnya sekolah waktu hidup sama mereka dan ngeliat tagihan itu ngebuat gue ... I don't know, Bek. Should I help her? Kalau cuma biaya SPP seharusnya nggak mungkin dimanipulasi, 'kan?"

When The Room Gets Too HotTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang