Chapter 30

34K 2.2K 387
                                        

P E M B U K A

Kasih vote plus emot dulu buat chapter ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Kasih vote plus emot dulu buat chapter ini


Buat yang belum tau cerita pendahulu lapak ini; dongeng si pengasuh nakal dan majikan duda liar aka Mamiw Pio dan Papi Gala, bisa cek akunku dan baca Naughty Nanny. Di cerita itu, Askara masik kesyiiil yang bisanya cuma ngancem nangis keras-keras. Nyot-nyotnya pun masih pake sippy cup.

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

"Masih mau lanjutin marah-marahnya? Nggak mau baikan aja?"

Miura tak menghiraukannya, sekadar menoleh pun tidak. Dia terus berjalan dengan langkah kian dipercepat- bersikap seolah-olah tidak mendengar kalimat Askara barusan, serta mempertahankan raut dingin yang mempertegas kesan tak ingin diganggu. Sesampainya di depan pintu kamar, tangan yang semula mengepal kuat di sisi tubuhnya, kini terangkat. Meraih gagang pintu dan membuka dengan tak sabaran.

Ketika pintu tak bergerak, matanya menyipit guna menyorot tajam ke arah gagang pintu yang mencari perkara padanya. Lalu ketika sudah mencoba sekali lagi dengan tenaga lebih kuat, namun hasilnya tetap sama, Miura menghela napas berat. "Arghh! Kenapa nggak bisa dibuka, sih?!" gerutunya dengan napas kian memburu, lantas melepas gagang pintu tak berguna.

Mundur selangkah, gadis dengan raut memerah karena dibuat semakin marah, menumpukan tangan di pinggang. Dagunya terangkat, menatap sengit ke arah pintu yang ingin dia hancurkan. Tanpa peringatan, tiba-tiba saja dia maju dan menubrukkan bahu kanan ke permukaan pintu.
Sekali.
Dua kali.
Sampai ketiga kalinya, masih belum membuahkan hasil. Buatnya mendengkus, lalu menendang pintu saat menyentuh bahunya yang terasa nyeri.

"Nggak ada gunanya punya pacar!" hardik Miura begitu balik badan, dan mendapati Askara sejak tadi hanya menontonnya-tanpa mengirim bantuan untuknya yang sedang mengalami kesulitan. Benar-benar definisi tidak berguna.

Spontan Askara melempar ponsel ke sofa, bersama dengan gerakan mengangkat wajah. Perlihatkan reaksi berupa ekspresi heran pada Miura yang tiba-tiba saja menghardiknya. Dalam beberapa detik saja-bersamaan dengan Miura yang mulai mengomel-dia mengatur ulang ekspresinya. Ditatapnya gadis yang sedang misuh-misuh itu dengan sorot lembut penuh perhatian. Dan selama gadisnya mencerocos kemana-mana, Askara dengarkan dengan seksama tanpa menyela ataupun membela diri supaya tak memperburuk suasana.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang