Chapter 42

31.4K 1.9K 119
                                        

P E M B U K A

Pastiin udah baca chapter 41

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pastiin udah baca chapter 41.
Chapter itu diupdate pas Wattpad error—nggak ada notif muncul. Bisa cek daftar isi cerita ini kalau mau baca chapter 41.

***


Janji temunya dengan Nawasena Manggala diatur pukul tujuh malam. Setengah jam sebelum waktunya tiba, mobil Jeremy sudah berhenti di seberang gerbang rumah dengan pilar-pilar menjulang nan kokoh. Untuk kesekian kali dalam semenit terakhir, jemarinya meremat kuat setir—setiap gelombang pembawa kegelisahan menghantam hebat relung hatinya. Lalu rematan itu perlahan-lahan terurai, diganti gerakan jari yang mengetuk-etuk setir dengan ritme tak beraturan.

Helaan napas pria berkemeja hitam itu terdengar lebih berat dari sebelumnya. Di balik kaca mobil yang penuh oleh titik-titik rintik hujan, Jeremy menatap lantai tiga hunian Nawasena Manggala—yang dia tahu kalau di lantai itulah kamar Melody berada. Diam-diam dia lambungkan harapan, semoga tirai abu-abu tersibak, lalu hadirkan sosok Melody. Namun harapannya hanya sekadar angan.

"Huh!"

Hatinya tak merasa lebih baik.
Semakin lama menatap bangunan itu, apa yang dikhawatirkan justru tampak semakin mendekati nyata. Kepalanya penuh riuh tentang kemungkinan ... bagaimana jika—tidak! Tidak boleh pesimis.
Belum dicoba.

Di tengah upaya meyakinkan diri, tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring. Jeremy yang terkejut, spontan menoleh ke kursi penumpang dimana ponselnya tergeletak. Mendapati jika itu adalah panggilan dari seseorang yang lebih sering menambah beban—dibandingkan memberi tenang—dia sambar benda pipih itu. Genggam erat sekali, sebelum dilempar ke jok belakang. Untuk saat ini, kepalanya sudah riuh. Penuh sesak oleh skenario buatannya tentang pertemuannya dengan Nawasena Manggala. Rasa-rasanya, tidak akan muat jika diselipi beban lagi.

Mendadak pusing akibat dering yang terdengar menyebalkan, Jeremy mengangkat tangan. Menyentuh bingkai kacamata yang sedari tadi bertengger di hidungnya, untuk selanjutnya dilepas, dan diletakkan di dashboard.

Hanya dalam hitungan detik pasca dering berhenti, dering itu kembali terdengar, dan mungkin akan terus terdengar sampai dia mau menjawab panggilan itu. Sebab ayahnya bukan seseorang yang mudah dihindari. Paham betul-betul bagaimana watak keras orangtuanya, Jeremy dengan berat hati mengambil kembali ponselnya. Dia terlebih dahulu menarik napas dalam-dalam, lalu embuskan perlahan. Setelah mengulang sebanyak tiga kali, barulah ibu jarinya menggeser ikon berwarna hijau. "Halo, Pa ..."
Jeremy menyapa setenang mungkin, sebab ingin menghemat energi.

"Mama bilang kamu udah jalan ke rumah Melody. Bener?"

"Iya.  Masih di jalan, bentar lagi nyampe."

"Titipan Papa buat orangtua Melody, nggak ketinggalan, kan?"

Ditanya demikian, pria berkemeja hitam itu menoleh ke belakang. Tatap dua paper bag yang masing-masing berisi bolen lilit dan kue balok; oleh-oleh dari ayahnya. Tadi sore, beliau baru saja pulang dari Bandung. Sengaja membelikan itu untuk orangtua Melody. "Nggak."

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang