Chapter 50

25.9K 1.6K 120
                                        

P E M B U K A

2 hari terakhir, habis teraweh ngopi, gabisa tidur sampe saur KWKWK dan jadilah chapter ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

2 hari terakhir, habis teraweh ngopi, gabisa tidur sampe saur
KWKWK dan jadilah chapter ini. Padahal niatnya mau dieksekusi habis lebaran aja
***

Sengatan panas pada saat matahari menggantung di bentangan langit tanpa awan, tidak ada apa-apanya dibanding panasnya bara dalam dada Askara, yang tersulut karena seseorang hendak mengusik Miura Nara. Duduk di balik kursi kemudi, rahangnya mengeras dengan sorot mata menggelap nan tajam, ketika menunggu targetnya datang. Meski kelihatannya tenang, namun dalam ketenangannya, pria itu menyimpan amukan badai yang sangat berbahaya, siap menghancurkan siapapun.

Seketika, cengkeramannya pada setir mobil menguat hingga buku-buku jarinya memutih. Kini matanya terkunci pada sedan merah yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Dari arah berlawanan, mobil itu tampak melaju dengan tenang, sebab belum menyadari keberadaan sosok pengintai yang merupakan ancaman besar. Guna menarik perhatian si pengemudi, Askara pun menekan pedal gas SUV kokoh dan penuh intimidasi, hingga mesin berat kendaraannya meraung keras mengeluarkan energi liar. Raungan beratnya menggema di udara siang yang semakin panas. Menjadi peringatan awal bagi si sedan merah.

Seperti yang diharapkan, sedan merah itu tampak goyah pasca diberi peringatan pertama. Lajunya melambat, namun tidak cukup untuk meredakan amarah yang berpendar dalam dadanya. Sebab yang lebih Askara inginkan, adalah mobil itu putar balik dan orang-orang di dalam sana mengurung niat menemui Miura Nara. Karena misinya memang mencegah supaya mereka jangan sampai mengusik seseorang dalam lindungannya.

Maka dari itu, dia pun menghentak pedal gas hingga SUV di bawah kendalinya meninggalkan bahu jalan. Melesat liar ke sisi tengah dengan membawa serta bayangan penuh ancaman di setiap geraman berat mesin kendaraannya. Tak sedikit pun melambat meski moncong tajam mobilnya, semakin dekat dengan moncong si sedan merah yang terlihat kecil dan terkesan rapuh.

Pada akhirnya, sosok di balik sedan merah itu pun tersudut, tertekan oleh SUV yang mendominasi jalan dengan mutlak. Hingga akhirnya Jeremy memutuskan untuk tunduk, sebab sudah sangat terdesak, dan melawan apa yang ada di hadapannya adalah tindakan yang sangat konyol. Sedannya tidak cukup kuat, bukan tandingan SUV di hadapannya.

"Lain kali aja, ya, Ma. Kayaknya Askara nggak ngizinin kita buat ketemu Miura," kata Jeremy tidak enak hati, sesaat setelah ban belakang mobilnya berdecit keras sewaktu mencengkeram aspal.

"Memangnya kalau mau ketemu Miura harus izin Askara dulu?"

Tidak menanggapi pertanyaan ibunya yang terkesan tidak terima jika pertemuan siang ini harus batal, mata berkabut gelisah milik Jeremy, bergerak cepat ke arah spion guna memeriksa kondisi jalan di belakangnya. Sebelum sedan ringkihnya dihantam telak oleh SUV kokoh yang terus mengaum—layaknya predator paling mematikan, dia segera menggeser tuas ke mode mundur. Dan di detik berikutnya, sedan merah di bawah kendalinya, mulai bergerak mundur. Sebelum akhirnya si pengemudi memutuskan untuk memutar setir tajam guna berbalik arah, lalu melesat cepat. Enggan memperpanjang urusan.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang