Chapter 44

23.3K 1.9K 172
                                        

P E M B U K A

Rasa-rasanya, saat melangkah petantang-petenteng mendatangi ruangan papi guna pamerkan hasil kerja kerasnya, berkas yang dibawa sangatlah enteng

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Rasa-rasanya, saat melangkah petantang-petenteng mendatangi ruangan papi guna pamerkan hasil kerja kerasnya, berkas yang dibawa sangatlah enteng. Anehnya, sewaktu Askara membawanya keluar setelah papi memberi masukan terlalu banyak-menunjukkan bahwa hasil kerjanya sangatlah buruk-berkas itu menjadi berat sekali. Pria itu sampai mengeluh, lalu mengadu pada Mamiw Pio, tentang bagaimana tidak terpujinya papi yang baru saja membantainya habis-habisan. Sangat tidak berperikepapian. Seperti bukan papi yang dia kenal.

Sewaktu merasa sedikit lebih baik, sebab Mamiw Pio menunjukkan keberpihakan padanya dan berjanji akan mengomeli papi, suasana hatinya dibuat kembali buruk. Tanpa sempat mengubah raut muka yang menunjukkan seberapa tertekan dirinya, begitu pintu ruangan papi ditutup dari luar, gelak tawa Om Jiro mengolok-oloknya yang terus kena semprot papi.

Puas menertawakannya, om-om menyebalkan itu merangkulnya sok akrab. Mengatakan dengan nada jenaka, jika peran si selalu salah di mata papi, kini telah resmi diserahkan padanya. Jika tahu saat dewasa akan diperlakukan seperti ini, Askara pasti habiskan jatah nakal ke Om Jiro; ketapel kepalanya seribu kali.

"Besok bakal lebih parah lagi. Siap-siap aja kamu, Yul-Tuyul," kata Jiro menakut-nakuti mantan tuyul magang, lalu merebut berkas di tangan Askara. Dengan dramatis, dia gulung-gulung berkas tersebut-praktikan apa yang sedang dikatakan tentang kemungkinan tindakan Manggala besok. Lalu memukul penuh dendam tertumpuk ke udara, membayangkan jika yang dipukul adalah kepala si bocil nyot-nyot. "Terus kepalamu muter kayak gasing abis dipukul papimu yang durjana itu. Pokoknya salah dikit aja, kepalamu taruhannya. Kalau nggak dikunyah, ya, ditelen bulet-bulet sama si Gala Gendeng. Syukurin! HAHAHA."

"Om."

Tawa Jiro perlahan-lahan mereda.
Ngeri melihat tatapan Askara yang mengingatkannya dengan si tokoh antagonis; Nawasena Manggala. Merinding saat keponakannya tiba-tiba diam-takut nangis keras-keras seperti saat masih kanak-kanak-dia pun pergi. Bisa dikeroyok antek-antek Askara kalau sampai bocah itu tantrum. "Kalau nanti malem nggak bisa tidur-mikirin kerjaan-minta nyot-nyot aja ke bapakmu. Sekalian minta digebuk-gebuk pantatnya. Terus-AMPUN, IYA NGGAK GITU LAGI. Bercanda doang, serius amat."
Jiro lari, tanpa menoleh ke belakang lagi, sebab ada Nawasena Manggala berdiri di ambang pintu.

Sepeninggal omnya yang akhir-akhir ini sering usil, pria jangkung dengan balutan turtleneck-penutup goresan kuku-kuku Kak Miumiu di leher-yang dipadu blazer itu, mulai mengambil langkah berat akan beban tak kasat mata. Sejak langkah pertama, raut tampannya merengut tidak suka disertai sorot mata yang meredup. Kepalanya pun riuh, penuh oleh kritik tajam papi yang membuat semangatnya terjun bebas. Belum terbiasa menghadapi papi mode bos durjana-kata Om Jiro-jiwanya terguncang hebat.

Sesaat setelah membuang napas panjang, tangan kanannya terangkat. Menarik ujung turtleneck hingga menutupi sebagian dagunya yang tajam. Tiba di depan pintu ruangannya, bahunya sedikit merosot, sebab kehilangan banyak energi sepanjang perjalanan. Dia lantas membuka pintu dengan gerakan malas. Melangkah gontai sembari menanggalkan blazer, lalu melemparkannya ke sofa. Tungkai panjangnya kini terayun berat, membawanya ke arah kursi kebesarannya. Dengan gerakan dramatis khas seorang Askara Tarachandra Manggala, pria lesu itu menjatuhkan diri ke kursi, dilanjutkan gerakan melempar punggung ke sandaran.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang