Chapter 45

22.5K 2K 272
                                        

P E M B U K A

P E M B U K A

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Miura mulai menggigil di atas motornya, sebab jas hujan yang dikenakan tak becus melindungi. Tubuh babak belur dihajar lelah dari segala sisi, menuntut haknya supaya lekas mendapatkan waktu istirahat. Sebab itulah, dia enggan berlama-lama di teras kafe bersama ketidakpastian tanpa melakukan apa-apa. Pada akhirnya, dia nekat menantang hujan badai yang tak henti-hentinya mengamuk. Abaikan setitik rasa takut yang ditekan—tak dibiarkan muncul ke permukaan, perempuan itu menggenggam erat seluruh sisa keberanian, di tengah cemas akan malam yang semakin mengerikan.

Deret kata pengaduan dari sisi terlemah yang selalu ingin dimanja-manja—diperlakukan layaknya tuan putri, serba dilayani-urung dikirim ke Askara. Miura merasa mampu menaklukan malam ini seorang diri. Enggan penuhi permintaan yang berulang kali Askara ingatkan. Perempuan itu pikir, sebelum ada pria yang akhir-akhir ini membuatnya menjadi perempuan cengeng, dia bisa melewati apapun sendiri. Malam yang jauh lebih mengerikan dari sekadar hujan badai, pun sudah sering dia hadapi. Jadi, tidak ada masalah pulang sendiri tanpa perlu merepotkan siapapun untuk menjemput. Terutama Askara yang hari ini mendiamkannya. Selain karena alasan itu, Miura lebih takut menghadapi kenyataan pahit jika seandainya pesan permintaan tolongnya, diabaikan sebagaimana pesan-pesan tadi siang.

Sewaktu menghentikan laju kendaraan—sebab lampu lalu lintas menyala merah-perempuan dengan pandangan mulai mengabur dan mata semakin terasa perih, pun memejam rapat. Lalu mengerjap beberapa kali guna kembalikan kejernihan matanya. Masih belum cukup membantu, Miura mengangkat visor helm. Punggung tangannya menyeka kelopak mata, menguceknya perlahan-lahan. Tepat saat dia membuka kelopak matanya kembali, kilat tajam nan kejam muncul mengoyak kegelapan tepat di hadapannya. Mengejutkannya hingga spontan mencengkeram setang motor yang menjadi satu-satunya pegangan saat ini.

Sesaat setelah cahaya mengerikan itu lenyap ditelan kegelapan, dia menggigit bibir kuat-kuat. Mencoba tenang disaat jantungnya berdegup terlalu kencang, pasca dihantam gelombang cemas. Matanya lalu bergerak gelisah ketika suara menggelegar datang mengusik ketenangan. Menggema begitu keras hingga dadanya ikut bergetar.

Sebuah kebohongan besar jika perempuan yang susah payah meneguk ludah, mengatakan kalau tidak takut di situasi yang terus saja mengiris-iris keberaniannya. Hanya saja, ketakutan-ketakutan itu terus dilawan.

Miura tidak ingin menyerah pada hujan badai yang mengamuk malam ini. Begitu lampu lalu lintas menyala hijau, dia kembali melajukan kendaraan. Tak gentar meski kilat terus menyambar-nyambar di hadapannya, disusul raung guruh yang nyatanya tidak semengerikan mendiang sang ayah—ketika mengamuk hanya karena melihat wajahnya.

Laki-laki keparat yang pergi meninggalkan luka terlalu dalam, selalu mengatakan dengan penuh kebencian jika dirinya mirip dengan ibu-setiap kali menyerangnya tanpa belas kasihan, sekali pun Miura kecil sudah memohon pengampunan dengan suara terbata-bata dan sorot penuh luka. Juga meminta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah dia mengerti. Maaf karena terlahir dengan paras mirip dengan ibu, maaf karena selalu membuat ayah marah.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang