Mulanya, maksud Miura Nara menerima pernyataan cinta berondong tengil yang terus mengganggunya, adalah untuk membuatnya kapok. Dia sudah menyiapkan 1001 tingkah menyebalkan yang akan ditunjukkan selama masa uji coba berpacaran. Dengan begitu, berond...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kasih emot dulu buat chapter ini
***
Langit pagi itu berselimut kelabu. Hujan masih setia turun, ciptakan nyanyian dengan nada ritmis yang begitu menenangkan. Buat siapa saja enggan tinggalkan pembaringan, memilih lelap dalam tidur. Terlebih ketika udara dingin pembawa aroma hujan yang segar, terus saja menyelinap masuk melalui celah-celah jendela. Menjadikan kasur empuk sebagai tempat paling tepat tuk bermalas-malasan.
Meski sudah terbungkus selimut tebal, Askara tetap saja bergerak mencari kehangatan lebih banyak lagi. Merapatkan tubuhnya ke tubuh Miura tuk cari perlindungan dari dinginnya udara pagi yang terasa menusuk kulit. Tanpa membuka kelopak matanya yang terasa berat, pria itu menarik sudut-sudut bibirnya hingga tercipta lengkung senyum, sewaktu menemukan aroma khas tubuh Miura Nara.
Saat itu juga, kedua lengan berototnya melingkar erat pada pinggang yang lebih tua. Menarik tubuh kecil kekasihnya untuk diajak menghabisi jarak yang tersisa. Kemudian, salah satu tungkainya terangkat. Mengunci Miura dengan lembut tuk memastikan kekasihnya tak pergi kemana-mana, sehingga kehangatan seperti ini terus tercipta.
Saat itulah Miura terjaga, namun tak melakukan pergerakan apa-apa. Hanya sebatas membuka kelopak mata, lalu menyaksikan bagaimana gerakan rusuh berondong yang tengah mencari kehangatan lebih pada tubuhnya. Sampai akhirnya Askara menemukan apa yang dicari—begitu benamkan wajah pada perpotongan lehernya, perempuan itu tersenyum tipis. Lantas menggeliat kecil, sebab tergelitik oleh deru hangat napas si Bocil yang menerpa kulit lehernya. Dia biarkan anak kecil yang terperangkap di tubuh manusia dewasa itu, tetap berada di sana.
Tanpa sentuh, Miura mengandalkan sepasang netranya, untuk menjelajahi detail paras sosok yang menerimanya tanpa menuntut sebuah kesempurnaan. Menunjukkan makna sebenar-benarnya mencintai, menerima sepenuh hati. Tanpa syarat. Tanpa keraguan.
Hatinya berdesir. Matanya tiba-tiba memanas sewaktu mengingat apa saja yang sudah Askara lakukan untuk menyelamatkannya dari badai kehidupan. Hatinya mendadak penuh oleh perasaan yang terus saja mendesak ingin keluar, namun Miura kehilangan fungsi otak, sehingga tak mampu merangkai kata tuk mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini. Lama terdiam, Miura menarik napas panjang di kala kelopak matanya sedikit bergetar sewaktu menahan cairan bening yang hendak keluar.
"Terima kasih, ya, Askara." Perempuan itu berbisik pelan—nyaris tanpa suara. Kemudian menggigit bibir ketika jemarinya dengan begitu hati-hati menyentuh lembut pipi sang kekasih.
Pada saat itu pula, dia berandai-andai. Bagaimana jika semesta tak mempertemukannya dengan Askara? Mungkin semalam tubuh letihnya masih meringkuk kedinginan di atas kasur lantai yang ada di kamar kontrakannya. Menghabiskan malam panjang penuh kegelisahan, ditemani berisik di kepala yang tak pernah berkesudahan. Lalu terbangun dengan perasaan cemas berlebihan, sebab tidak siap menghadapi hari-harinya yang penuh kejutan.