Chapter 37

33.5K 2.3K 478
                                        


P E M B U K A



Kasih emot dulu buat chapter ini

***

"Pelan-pelan, Bu," ucap Miura dengan suara terdengar begitu lembut penuh perhatian, seraya membantu menopang punggung wanita paruh baya yang berusaha bangkit. Lalu dengan cekatan, dia mengangsurkan segelas air mineral pada wanita yang memperkenalkan diri dengan nama Nadira. "Biar saya bantu, ya, Bu," izinnya sewaktu mendapati tangan wanita itu sedikit gemetar ketika memegang gelas.

"Terima kasih," ucap Nadira lalu menutup kelopak mata ketika sengatan rasa nyeri di kepalanya datang lagi. Pada saat bahunya ditepuk pelan, kemudian disusul pertanyaan perihal bagaimana keadaannya, wanita itu langsung membuka kelopak mata. Menatap Miura dengan jenis tatapan yang sulit sekali dijelaskan. "Nggak papa," dustanya.

Mata sayu Nadira kini memperlihatkan sorot penuh kepedihan yang teramat dalam. Menjadi sebuah teka-teki yang sulit sekali dipahami oleh hati, mengapa bisa bereaksi seperti ini. Wanita itu benar-benar tidak mengerti mengapa hatinya begitu terluka, hanya karena bertemu pandang dengan mata teduh Miura yang terasa familiar. Seolah-olah dia sudah mengenalnya sejak lama—jauh sekali sebelum pertemuan kedua ini. Seperti ada sebuah ikatan kuat yang menghubungkan erat antara dirinya dan Miura Nara.

Ketika mencoba memahami tentang ikatan tak kasat mata itu, dadanya tiba-tiba berdenyut nyeri. Rasanya sesak sekali. Tanpa peringatan, kilasan masa lalu yang hadir menjadi mimpi buruknya akhir-akhir ini, terputar dalam benak.

Malam itu,
gerimis turun menjatuhi wajah, menyatu dengan air mata yang mengalir di pipi—sejak dia mulai mengambil langkah berat menyusuri jalan setapak penuh duri menusuk hati. Kendati setiap langkah pengkhianatannya menambah goresan luka di hati, dia terus melangkah tanpa berani menoleh ke belakang. Meninggalkan sebagian dari dirinya, diiringi lengkingan suara tangis pilu anak kecil yang sebentar lagi berusia dua tahun.

Tangis sarat akan kesedihan itulah yang akhirnya membuat langkah beratnya terhenti. Nadira pun memutuskan untuk balik badan. Raut mukanya tak mampu menyembunyikan kesedihan di kala menemukan pemandangan teramat memilukan yang membuat dadanya sesak. Ditatapnya lekat-lekat sosok Pras yang berdiri kaku di ambang pintu dengan sorot penuh luka. Pria itu tengah menatap kosong ke arahnya sembari mencengkeram kuat bahu anak kecil yang terus saja menangis keras. Tubuh kecil anak yang menjadi korban keegoisannya, tidak berhenti melakukan pemberontakan. Mencoba bebas dari cengkeraman sang ayah di tengah tangisannya yang semakin menjadi-jadi.

Hancur.
Nadira benar-benar hancur di kala menyaksikan bahu anaknya bergetar hebat dan suaranya mulai terdengar serak. Hatinya menjerit, namun tubuhnya tetap diam tanpa melakukan apa-apa untuk anak kecil itu. Lalu disela-sela tangis yang menyesakkan, tangan mungil anaknya terjulur ke depan. Terus saja digerakkan, mencoba meraihnya dengan binar penuh harap. Saat itu, Nadira ingin sekali menggapai uluran tangan si kecil, lantas memberi pelukan erat tuk menenangkannya. Namun kakinya tetap terpaku di atas tanah yang basah. Tubuhnya membeku, tak melakukan apapun. Hanya menatap ke wajah mungil yang dibanjiri air mata, dengan napas  tersengal.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang