Mulanya, maksud Miura Nara menerima pernyataan cinta berondong tengil yang terus mengganggunya, adalah untuk membuatnya kapok. Dia sudah menyiapkan 1001 tingkah menyebalkan yang akan ditunjukkan selama masa uji coba berpacaran. Dengan begitu, berond...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
/chapter wajib senyum lebar sampai akhir
***
Askara keliru. Miura tidak benar-benar pergi. Sewaktu meninggalkan makam dengan langkah tergesa-gesa, sejatinya perempuan itu sedang mengelabui pria yang sejak awal telah diketahui sedang membuntutinya-namun dia berlagak tidak tahu, bersandiwara dengan cermat dan penuh kehati-hatian.
Di balik batang pohon tempat persembunyiannya, Miura membiarkan angin yang membawa serta bisikan sunyi, menyentuh kulit wajahnya. Sejenak, dia terdiam guna mempersiapkan diri. Bola matanya bergerak-gerak, memperhatikan dedaunan kering di sekitaran yang berlarian ketika angin berembus.
Kini, tatapan perempuan itu terkunci pada sosok Askara yang berdiri memunggunginya. Di mata sayunya, yang tersisa hanyalah binar redup, menggantung akibat dikecewakan. Bibirnya terkatup rapat dengan garis menegang, tak diperbolehkan lagi membisikan harapan apapun pada siapapun. Di bawah pohon yang terus menggugurkan daun-daun kering, Miura menggigit bibir penuh kegetiran. Menelan seluruh kepahitan yang tersangkut di tenggorokan. Kini, di setiap helaan napas yang dia tarik, terasa begitu berat-seperti ada beban tak kasat mata. Dan dadanya pun penuh sesak oleh gemuruh kecewa yang sedang dia coba redakan, supaya tidak meledak menjadi air mata.
Dari awal, dia memang tidak melarang. Bebaskan Askara untuk menentukan pilihan; apakah harus berhenti atau tetap mencari tahu-meski di lubuk hatinya ada harap agar yang lebih muda inisiatif tidak mencari tahu soal apapun. Rupanya, apa yang kekasihnya pilih, tidak sesuai harapan. Sebuah keputusan yang Miura maknai, jika sebagai pasangan, Askara tidak berpihak padanya. Lebih memilih berdiri di atas kepentingan Nadira dan Jeremy.
Jika perasaannya disederhanakan dalam perumpamaan, rasanya mungkin akan sama seperti Askara yang biasa menggenggam erat jemarinya, perlahan-lahan melonggarkan genggaman. Berakhir melepaskannya, demi bisa menggenggam tangan orang lain-di saat Miura sendiri sebetulnya masih begitu membutuhkan genggaman itu. Tindakannya secara tidak langsung, melukainya yang sedang menyangkal semua kebenaran menyakitkan. Membuat sesuatu dalam dirinya terasa perih.
Merasa diawasi, pria yang jongkok di sisi nisan bertuliskan nama Adipati Prasojo, refleks menoleh cepat ke arah belakang. Lalu bangkit guna memastikan. Di balik sunglasses gelap yang bertengger di hidung bangirnya, mata tajamnya menyisir sekitar dengan penuh kewaspadaan. Namun tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan. Hanya ada keheningan yang membuat kegelisahannya menggantung tanpa jawaban.
Merasa firasatnya tak pernah salah, serta masih meyakini jika tadi memang ada yang mengawasinya, pria itu pun mengambil langkah. Pantofel hitam mengkilapnya terayun dengan ritme teratur, tanpa alihkan perhatian dari pohon besar tak jauh dari hadapannya. Nalurinya mengatakan, si pengintai mungkin bersembunyi di sana. Maka dari itu, dia terus menjaga langkah yang membawa serta ketegangan, meski ponsel dalam genggamannya terus bergetar.