Mulanya, maksud Miura Nara menerima pernyataan cinta berondong tengil yang terus mengganggunya, adalah untuk membuatnya kapok. Dia sudah menyiapkan 1001 tingkah menyebalkan yang akan ditunjukkan selama masa uji coba berpacaran. Dengan begitu, berond...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jarum pendek jam dinding menunjuk tepat ke arah angka tiga, ketika jarum panjang berdiri tegak lurus menunjuk angka dua belas. Di jam-jam ini, seharusnya Miura masih tertidur pulas di dekapan suami. Tenggelam dalam buaian hangat serta wangi tubuh prianya yang begitu menenangkan. Namun, kehamilan anak pertama membuat si calon ibu kehilangan kedamaian. Rasa mual yang tak bisa diprediksi kedatangannya, pagi ini muncul lebih awal. Tak peduli bahwa tubuhnya belum mendapatkan waktu istirahat yang cukup, setelah menjelang tengah malam diserang mual.
Bukannya berbagi kehangatan dengan Askara, saat ini Miura justru berdiri di depan wastafel. Membungkuk dengan tangan gemetar mencengkeram tepian marmer. Dan sejak sepuluh menit yang lalu, wanita itu masih belum berhenti berusaha memuntahkan isi perut, meski tak ada yang bisa dikeluarkan lagi—sebab yang tersisa hanyalah cairan pahit dan lendir yang berakhir membuatnya terbatuk.
Hoek. Lagi. Rasa mual hadir dalam gelombang lebih kuat, lebih besar. Naik cepat menggulung kerongkongan, sehingga dia spontan menunduk kembali. Keluarkan apapun yang bisa dikeluarkan. Dibersamai seseorang di belakangnya yang terus mengelus punggungnya dengan lembut.
Pada saat merasakan gejolak itu sedikit mereda, Miura mengangkat wajah perlahan. Kemudian menatap pantulan dirinya, sehingga dia bisa melihat bagaimana detail apa saja yang ada di wajahnya. Terutama matanya yang berubah sayu dan bibir yang kehilangan rona merahnya, sehingga tampak pucat.
"Kenapa bukan aku aja, ya, yang mual-mual gitu? Padahal banyak, tuh, suami yang mual-mual pas istrinya hamil, tapi kenapa aku nggak kayak mereka? Nggak tega banget liat Sayangku begini, muntah-muntah terus dari kemarin," ujar Askara dengan suara rendah dan parau, tanpa hentikan kegiatan menyeka keringat di tengkuk serta leher Miura. Lalu ketika wanitanya balik badan, tangannya bergerak otomatis. Bersihkan area sekitar dagu istrinya yang terkena muntahan.
Sesaat kemudian, dia menatap wanitanya begitu lama dan dalam. Lekat tanpa kedip. Dalam diamnya, pria yang melihat wanitanya meredup dan tampak begitu lemah di trimester pertama kehamilan, tak hentinya memohon. Supaya hal-hal yang belakangan ini merenggut ketenangan istrinya, agar dipindahkan saja ke tubuhnya. "Kalau semuanya bisa ditukar, aku beneran mau dan siap gantiin. Biar aku aja yang muntah-muntah dan ngerasain semuanya, yang penting kamu baik-baik aja. Bisa tidur nyenyak—nggak yang tiba-tiba kebangun karena mual. Bisa makan apapun tanpa dikeluarin lagi. Sehat terus, nggak lemes gara-gara habis muntah-muntah."
Miura menggeleng lemah, sebelum akhirnya menghambur ke pelukan suami yang selalu setia menemani di setiap masa sulit tanpa diminta. Kepalanya membentur permukaan bidang dada pria yang segera merengkuh pinggang dan punggungnya, mendekapnya erat sembari terus menjatuhi kecupan sayang di pucuk kepala. Lalu, ketika akhirnya dia merasa jauh lebih tenang, wanita itu berkata, "aku nggak papa, Sayang. Beneran nggak papa banget. Aku baik-baik aja."
Menarik wajah menjauh, Miura mendongak supaya dapat memperlihatkan kesungguhannya. Bahwa dia menjawab dengan jujur.
Askara tidak merespons pernyataan istrinya barusan. Dia tetap dalam kegiatan menatap Miura lekat-lekat. Dan perihal kekhawatirannya, tak sedikit pun berkurang—meski yang dikhawatirkan mengatakan kondisinya baik-baik saja. Lagi pula, pria mana yang tidak khawatir melihat wanitanya terus-menerus muntah, kehilangan nafsu makan, juga mengalami kesulitan tidur. Bahkan, sekali pun Miura tidak mengeluh soal nyeri-nyeri yang dirasakan, namun sebagai pengamat yang baik, yang selalu memperhatikan detail sekecil apapun dalam diri sang istri, Askara tahu kalau kaki maupun punggung wanitanya kerap diserang nyeri. Dia beberapa kali memergoki Miura menyentuh punggung, juga memijat pergelangan kaki.