Chapter 53

19.8K 1.5K 77
                                        

P E M B U K A

P E M B U K A

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Lagi.
Miura menghentikan gerakan menyedot jus jambunya, ketika suara lembut es batu yang saling berbenturan, mendistraksinya untuk kedua kalinya. Sembari memainkan ujung sedotan dengan gigitan-gigitan lembut, tatapan penuh minatnya terarah pada gelas plastik bening berisi es kopi di tangan Askara. Dari sudut pandangnya, minuman itu tampak begitu menggoda. Hingga nikmat segarnya jus jambu tak dirasakan lagi.

Dari situlah penyesalan muncul ke permukaan. Harusnya dia memesan minuman sama dengan Askara ketika mereka di kedai kopi, bukan malah merengek meminta minuman yang tidak ada di tempat tersebut. Harusnya dia tidak bertingkah kekanak-kanakan, ketika mantan kekasihnya menjadi pusat perhatian yang membuatnya merajuk tidak jelas, dan berakhir meminta banyak hal demi memberi makan ego yang menuntut pembuktikan-jika dirinya masih menempati deret teratas prioritas Askara.

Lepaskan ujung sedotan dari mulut, Miura menurunkan tangan. Menatap jusnya sejenak, sebelum kembali menaruh perhatian pada minuman dengan buih di permukaan atas yang baru saja Askara goyangkan lembut. Sepersekian detik kemudian, tangannya terangkat cepat. Bawa mendekatkan ujung sedotan jusnya ke bibir yang ternoda buih tipis. Tepat saat pria yang diincar minumannya menoleh, dia tawarkan miliknya. Berharap setelah ini, giliran berondong itu menawarkan kopi padanya. "Kamu mau ini, nggak?"

"Mau," jawab Askara, lalu menunduk guna menggapai ujung sedotan. Selama beberapa saat, yang lebih muda hanya mengulum sedotan. Mengais sisa-sisa manis di jejak bibir Miura Nara yang tertinggal. Barulah setelah itu, dia menyedot jus. Cukup dengan dua teguk, gerakannya pun dihentikan, dan sedotan dibebaskan.

Setelahnya, Askara kembali fokus mengemudi dengan tenang. Sedangkan Miura, masih saja menatap penuh harap tanpa sepatah kata pun terucap. Hanya menunggu Askara bersama harapan kecil jika pria itu akan lakukan hal sama; menawarkan minumannya-kopi. Namun, harapan itu pupus ketika lagi-lagi, pemilik jari-jari yang mencengkeram santai gelas kopi, menikmati minumannya dengan tenang tanpa menawarkan itu padanya. Beberapa kali melempar kode-semisal berdehem, gerakan mengubah posisi duduk dengan cepat, atau menunjukkan gestur tak minat pada jus jambunya-namun tidak ada yang berhasil membuat Askara memahaminya.

Beralih sejenak dari jalanan, Askara menoleh guna memandang paras Kak Miumiu yang semakin ekspresif-mulai bisa merajuk dengan meniru gaya dramatis khasnya. Dari awal, dia sudah tahu. Untuk ukuran seseorang yang telah menguasai seni tentang Miura Nara, mustahil baginya tidak peka akan apa yang wanitanya inginkan. Hanya saja, pria tengil itu sengaja berlagak menjadi si tidak peka. Bukan semata-mata usil, namun Askara ingin wanita yang duduk di sampingnya, lebih berani lagi menyuarakan keinginan. Lalu setelahnya, dia akan ambil peran sebagai seseorang yang selalu mengabulkan keinginan wanitanya.

Miura sudah mencoba melupakan kopi Askara, tekan kuat-kuat hasratnya pada minuman itu agar tidak muncul ke permukaan. Namun, di tengah upayanya yang mengalihkan perhatian lewat jus jambu, bau manis dan lembutnya karamel di antara pekatnya kopi, menyapa indra penciumnya dengan membawa serta kehangatan. Dari situlah, keinginannya muncul lagi. Begitu menoleh, dia langsung menatap Askara yang memperlihatkan raut penuh kepuasaan pasca menikmati minumannya.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang