Chapter 43

27.2K 1.9K 140
                                        

P E M B U K A


Chapter 42 (21+) udah ada di Karyakarsa.

***

Kabin mobil bau mani dengan hawa panas pasca sex yang mereka lakukan. Keduanya sama-sama dalam kondisi terengah-engah berantakan. Terutama perempuan yang duduk terkulai lemas di dada bidang basah kuyup oleh keringat. Dalam dekap pria yang terus mengecupi pundak telanjangnya—sesekali membawa kecupan naik menuju pucuk kepala, Miura menggeliat tak nyaman bersama lenguhan samar. Sebab dia rasakan pergerakan kejantanan Askara yang masih memenuhi liang senggamanya. Dia terlalu lemas untuk sekadar meminta pacar berondongnya mengeluarkan batang ereksinya, sehingga membiarkannya. Nanti—jika sudah puas akan sensasi kehangatan yang ditawarkan oleh lelehan-lelehan cairan kewanitannya—pasti keluar dengan sendirinya.

Perlahan-lahan, Miura urai rengkuhan eratnya pada biseps sang kekasih. Lantas mendongak menatap sosok yang tak pernah jemu-jemu melukis abstrak di punggung telanjangnya menggunakan ujung jari, atau sekadar mengelus-elus rambutnya yang kusut karena ulah pria itu.

"Kalau ternyata tadi ada orang yang liat kita pas begituan, gimana?" tanyanya khawatir. Sepasang netra dengan sorot redup—menyiratkan lelah—menerobos kaca mobil yang berembun tipis, lantas meneliti bagaimana suasana di luar. Dari sudut pandangnya, di luar memang tampak sunyi sekali. Namun tak meruntuhkan rasa cemas yang datang terlalu terlambat. Seharusnya dia cemas sejak tersudut di antara pintu mobil dan tubuh kekasihnya yang terus saja mengurangi bilangan jarak.

Jari telunjuk Askara hinggap di dahi Miura. Sentuh helai-helai rambut yang berjatuhan di sana, lantas bergerak menyingkirkannya. Menyelipkan ke belakang telinga.
"Ya nggak gimana-gimana," responsnya kelewat santai, sembari menahan senyum kala memperhatikan betapa berantakannya Miura Nara akibat ulah mesumnya. Bagaimana wajah cantik itu memerah berhias sperma mengering di sekitaran dagu, membuatnya ingin melakukan lebih banyak ronde lagi. Rasa-rasanya, yang tadi masih jauh dari kata cukup. Dia butuh sex yang lebih hebat, yang lebih panas. "Emang harusnya gimana hmm?" Pertanyaannya disertai gerakan mengelus-elus pipi.
Lalu, diam-diam dia mendorong pinggul.

Bersamaan dengan tangan menggapai bahu yang ramai oleh bekas cakarannya, Miura memejam kuat, lalu merengek protes sewaktu merasakan pergerakan di dalam kemaluannya yang masih terisi penuh. Khawatir digagahi lagi di mobil ini, sisa-sisa energi yang ada, dia gunakan untuk membebaskan diri. Tanpa lepaskan cengkeramannya pada bahu kokoh Askara, Miura perlahan-nahan meninggalkan pangkuan pria itu.

Saat akhirnya dia berhasil duduk di jok sendiri, pinggulnya sedikit terangkat, dan perempuan itu pun menggelinjang. Tubuhnya bergetar oleh gairah ketika kemaluannya memuntahkan cairan hangat cukup banyak. Meleleh keluar dan jatuh menggenang di jok.

Dengan cekatan Askara menaikkan celana yang dipelorotkan sampai mata kaki, sebelum menyambar beberapa lembar tisu. Perlahan-lahan dia buka paha Miura, bermaksud membersihkan genangan lelehan cairan di bawah kemaluan yang menganga basah tampak kemerah-merahan.
"Aku bersihin dulu, ya, Kak Miuuu."

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang