Chapter 51

22.3K 1.6K 113
                                        

P E M B U K A

Ruangan yang menjadi tempat si berondong mesum menunjukkan hasrat liar tak terkendalikan, menjadi hening

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ruangan yang menjadi tempat si berondong mesum menunjukkan hasrat liar tak terkendalikan, menjadi hening. Lolong desahan penuh gairah di antara rintih serta geraman-geraman rendah, kolaborasi antara bunyi kecipak basah dan becek yang menjadi alunan melodi erotis nan cabul, serta suara entakan pinggul yang saling berbenturan dengan laju cepat dan kasar, seluruhnya telah reda. Kini, yang tersisa begitu sex hebat penuh gairah telai usai, adalah deru napas tak teratur; pendek-pendek dan berat, dari dua orang tanpa busana yang tergeletak, terengah-engah kelelahan namun sarat akan kepuasan. Juga aroma penuh nafsu yang terbentuk dari bau sperma dan keringat. Ciptakan hawa panas gairah pada ruangan dengan kondisi berantakan.

"Eunghhh ...."
Lenguhan lirih itu mengudara lagi, meski Miura sudah berupaya untuk menahannya. Suaranya barusan, adalah reaksi alami ketika dinding sensitif di dalam liang senggamanya, bergesekan dengan urat-urat kejantanan Askara yang berdenyut jelas, pada saat pria itu menarik keluar batang kemaluannya.
"Ahhh," desahnya begitu menurunkan pinggul yang sempat terangkat, kemudian bergerak rapatkan kaki ketika tak lagi rasakan lelehan sperma dari liang senggamanya.

Puas menyaksikan bagaimana reaksi tubuh Miura—pasca ledakan gairah yang begitu hebat akibat gempurannya—Askara bergerak merengkuh tubuh telanjang penuh peluh dengan jejak lengket dari sperma tak tertampung. Memeluknya erat penuh dominasi mutlak, tak membiarkan jarak menunjukkan eksistensinya. Kulitnya yang masih terasa panas akibat pembakaran gairah, lembab, dan tampak berkilau ditempa cahaya, benar-benar menempel dengan tubuh wanita yang baru selesai dia luluh lantakan di atas ranjang. 

"Capek banget, ya?" tanya Askara, ketika jari telunjuknya bergerak menyingkirkan helaian-helaian rambut lepek dari wajah Miura Nara.

Andai energinya tidak dikuras habis, pertanyaan terkesan mengejek yang keluar dari bibir pria tengil—mata berkilat usil penuh kepuasan dan hasrat belum sepenuhnya padam—sudah Miura hantam kepala berondong menyebalkan itu.

Menyadari kekesalan yang diperlihatkan Kak Miumiunya, alih-alih merasa bersalah, Askara justru dibuat gemas pada wanita dalam dekapannya. Maka dari itu, usai mengangkat salah satu tungkai panjangnya dan menggunakannya untuk mengunci pergerakan—pastikan wanitanya tak dapat pergi kemana-mana—dia pun menghujani banyak kecupan di paras cantik Miura Nara.

"Askaraaa." Erangan parau itu adalah bentuk protes wanita yang menerima terlalu banyak kecupan, banyaknya dianggap terlalu berlebihan. Tak hanya sekadar protes, dia juga lakukan perlawanan meski tenaga yang digunakan terlalu lemah. Karena itulah, gerakannya mendorong wajah Askara supaya menjauh, tak cukup untuk menghentikannya serbuan bibir ganas pria yang mendekapnya erat. Terlalu erat sampai-sampai gairahnya kembali tersulut, setiap kali kulitnya bergesekan dengan kulit panas nan lembab keringat milik yang lebih muda.

"Udaaah, ihhh! Jangan cium-cium mulu! Nggak bosen apa cium-cium aku?" Miura Nara merengek setelah pipinya baru saja memanas, terbakar api gairah yang Askara percikan lewat cumbuan. "Askaraaa—"
Seketika suaranya lenyap, diganti rintihan ketika bibir bawahnya yang terluka karena keganasan si berondong mesum, diserang lagi.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang