Extra Chapter 1

21.9K 1.4K 125
                                        

P E M B U K A

Si bocil setelah menikah, nama tengahnya ganti BUCIN.


Miura memeluk suaminya erat—sangat erat. Seerat yang dia bisa, tanpa menyisakan sedikit pun jarak di antara mereka. Lengan-lengan kecilnya terus merengkuh pinggang prianya dengan seluruh kekuatan yang dia punya. Cengkeram punggung kemeja putih pria yang telah memilihnya tanpa ragu, mesti tahu seberapa jauh dirinya dari kata sempurna. Bahkan seandainya bisa, Miura tak hanya sebatas memeluk, melainkan melebur. Masuk ke tubuh pria hebat itu dan menetap di dalam sana tuk selama-lamanya.

Pelukan pertama—setelah resmi menyandang status sebagai istri seorang Askara Tarachandra Manggala—bukanlah sekadar sentuhan raga dalam balut hangat keintiman. Maknanya jauh lebih dalam. Itu adalah pelukan tulus dari perempuan yang telah kehilangan segalanya, serta tumbuh dengan cara mengerikan. Menjadikan peluk sebagai satu-satunya bahasa yang dia punya. Sebab tak ada bahasa cukup luas, untuk mengungkapkan syukur dan ledakan penuh kelegaan, ketika akhirnya jatuh di tangan pria yang tepat.

Sesaat setelah merasakan jemari istrinya menyusup mencapai tengkuk. Lalu memberi sentuhan di sana, sebelum akhirnya menekan lembut—isyarat supaya mendekat—Askara merendahkan tubuhnya sampai dahi mereka bersentuhan. Menyerahkan diri pada Miura yang bergerak cepat benamkan wajah di perpotongan lehernya. Menyentuh langsung kulit lehernya, dengan pucuk hidung yang tak bosan-bosan mencuri aroma tubuhnya.

Bibir lembut Miura menyentuh hangat leher Askara. Bergerak menyusuri garis leher suaminya, tebar ciuman-ciuman kecil. Lalu, ada kalanya menghentikan sesi cium-cium itu, guna memberi waktu pada hidung, untuk menghirup dalam-dalam harum parfum yang tercampur wangi alami tubuh suami berondongnya.

Dan setelahnya, bersamaan dengan jemari mulai memberi sapuan penuh perhatian di bahu kokoh prianya, Miura yang telah menemukan kehangatan menenangkan, menghentikan bibirnya di satu titik. Menekan lebih dalam dan begitu sarat akan makna, hingga tanpa sadar   air mata ungkapan bahagia sekaligus syukur, terus mengalir. Basahi kulit leher Askara.

Sewaktu merasakan pipi wanitanya basah, lengan Askara bergerak membalas pelukan dengan membawa serta kehangatan yang diharapkan dapat menenangkan. Lengan kirinya menyusup ke sisi belakang tubuh Miura Nara. Melingkar mantap tepat di antara lekuk pinggang dan panggul. Jemarinya yang kokoh namun penuh kelembutan, bergerak perlahan-lahan. Menyusuri lekuk pinggang istrinya dengan sentuhan halus, sesekali diberi tekanan atau remasan lembut. Sementara lengan kanannya, naik dari bawah punggung. Ikuti garis tulang belakang hingga telapak tangannya tiba di punggung. Di sanalah telapaknya mengusap dengan gerak naik-turun teratur.

Tanpa hentikan usapan pada tubuh yang tampak begitu kecil saat berada di pelukannya, Askara menunduk lebih dalam. Jatuhkan kecup setenang doa di pucuk kepala Miura Nara. Lalu, ketika wanitanya menarik wajah dari perpotongan lehernya dan mendongak, dia beri satu kecup begitu panjang yang jatuh perlahan di kening. Menetap begitu lama, tinggalkan kesan mendalam. Dan meski tak ada kata cinta terucapkan, namun Miura merasakan seberapa besar cinta pria yang kini mendekapnya.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang