Chapter 29

35.9K 2.5K 773
                                        

P E M B U K A

Kasih vote dan emot dulu buat chapter ini :))

***

Si kecil Naka mengangguk-anggukan kepala, lalu memberi keterangan sebagai saksi sesuai arahan dari tantenya tadi. "Iya, Om Askara nakal banget ke Tante Mel. Tante Mel digebuk-gebuk, digelindingin, diserang pakai ketapel, terus dikata-katain nggak baik, yang nggak terpuji. Om Zahary juga ikut-ikutan Om Askara nakal ke Tante Mel. Tapi kalau Om Jeremy kadang nakal, kadang kiss kiss pipi Tante Mel."

"Hah?!"
Dua pria beda generasi itu bereaksi sama. Sepasang netra keduanya terbelalak lebar dengan alis terangkat tinggi, sarat akan keterkejutan. Bibirnya sama-sama terbuka di tengah upaya memproses kalimat dari Naka yang tak disangka-sangka. Dua pria yang menampilkan perpaduan ekspresi syok berat dan tidak percaya itu, pun kompak menyorot penuh selidik ke arah Melody, kemudian lempar tatapan menuntut penjelasan.

Belum cukup nalar, Naka tak menyadari keheningan mencekam yang sedang terjadi, sehingga terus memberi keterangan dengan raut tetap riang—kontras sekali dengan para orang dewasa di sekelilingnya. "Pas aku cari-cari Tante Mel buat minta tolong bikin mimik susu, Tante Mel di dapur sama Om Jeremy. Tante Mel didorong sama Om Jeremy, tapi nggak jatuh. Tante Mel nempel di dinding yang deket kulkas. Terus Om Jeremy kiss kiss Tante Mel. Tapi—"

Di tengah situasi hening penuh ketegangan itu, Melody yang tertekan sebab dituntut tetap tenang di situasi semengerikan ini, pun tiba-tiba bersuara heboh dan lantang. "PRANK! Yaaaa ... Papi sama Mas Askara kena prank!"

Setelah membuat pernyataan yang disampaikan dengan cara sangat berlebihan itu, dia tertawa keras-keras dengan nada yang sedikit dipaksakan. Guna yakinkan ayah dan kakaknya yang menyorot penuh curiga, Melody berupaya mengeluarkan tawa senatural mungkin—tak berlebihan seperti di awal.

Ketika usaha kerasnya masih belum mengubah apapun, remaja yang mulai ketar-ketir dan merasa semakin terpojok oleh tatapan papi maupun Mas Askara, pun menyelamatkan diri dengan cara lain. Pasca menghentikan tawa pura-puranya, dia bergerak menyeka sudut matanya—bertingkah seolah-olah air matanya keluar, efek menertawakan hal paling lucu—kemudian memusatkan perhatian pada bocah lugu yang sangat berbahaya itu.

Melody sengaja mengambil posisi jongkok berhadapan dengan Naka, supaya bisa memunggungi dua pria berwajah seram itu. Dengan begitu, mereka tidak bisa mencari-cari kebohongan di wajahnya lagi.
"Naka! Kita ngepranknya berhasil, yeay!" seru Melody sembari mengusap-usap kepala keponakannya.

"Yeay!" Naka memberi sorak lanjutan dengan semangat penuh, meski sebetulnya tidak tahu apa yang baru saja dia soraki. Anak kecil berbalut polo shirt dengan aksen bordir berbentuk beruang, yang dipadu celana pendek itu, hanya ikut-ikutan Tante Mel-nya saja. Lalu ketika sorakannya membuat Tante Mel tampak bahagia, dia pun bersorak lagi. Kali ini sorakannya disertai gerakan melompat-lompat di tempat, membuat rambutnya yang diikat tuing-tuing oleh Tante Mel, bergerak terpantul-pantul seirama dengan lompatan kaki mungilnya.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang