Chapter 55

21.4K 1.3K 80
                                        

P E M B U K A

Suasana ruang kerja itu benar-benar sunyi, tenggelam dalam keheningan yang begitu panjang, namun tidak kosong

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana ruang kerja itu benar-benar sunyi, tenggelam dalam keheningan yang begitu panjang, namun tidak kosong. Cahaya lembut terus saja menyoroti garis tegas rahang Askara, yang mengeras dalam balutan konsentrasi tinggi. Tangannya bergerak mantap, membalik halaman demi halaman yang tengah menguji ketelitian. Lalu ketika alisnya menukik hingga muncul kerutan di dahi, serta mata menyipit, adalah tanda jika pria itu butuh waktu lebih lama untuk pergi ke halaman selanjutnya. Sebab dia perlu membaca ulang kalimat dan angka-angka yang berderet. Dalam prosesnya, kadang kala pria yang terlihat berbeda—jauh lebih dewasa—jika sedang mode bekerja, mengetuk pelan lembaran dokumen. Menekan ujung jarinya pada kertas, kemudian menghela napas berat.

"Yang tadi cantik banget, ya?"

Celetukan ringan namun di dalam nada yang digunakan menyimpan kekesalan, menyapa rungunya. Seketika, gerakan jari Askara yang hendak membalik kertas guna meneliti halaman berikutnya, terhenti. Tak bisa mengabaikan gerutuan itu begitu saja, kepalanya yang semula dalam posisi tertunduk, perlahan-lahan terangkat, hingga tatapannya dan wajah masam Miura bertemu membentuk garis lurus.

Menyadari jika, seseorang yang sedang pura-pura sibuk dengan majalah butuh perhatian darinya, Askara pun meletakkan bolpoin dalam genggaman. Menggunakannya sebagai penanda halaman yang terakhir diperiksa. Lantas menutup dokumen tersebut dan menumpuknya bersama dua dokumen lain yang menunggu giliran.

"Yang sebelumnya juga cantik, cantik-cantik semua. Pantesan ...." Kalimat itu tidak dilanjutkan, sengaja dibiarkan menggantung.

Miura kembali bersuara saat Askara baru saja menyentuh simpul dasinya. Tanpa alihkan tatapan herannya pada wanita itu, tangannya membuat gerakan tarikan kecil hingga simpul dasinya melonggar. Dasi yang semula terasa mencekik, kini bergelanyut lebih santai di kerah kemeja. "Pantesan apa, Kak?" responsnya lalu beranjak. Tungkai panjangnya berjalan santai mendekati Miura Nara, sembari melipat lengan kemeja putihnya dengan tenang. Menyingsingkan masing-masing sampai sebatas siku, tanpa berniat pamer otot. "Kalau ngomong jangan setengah-setengah dong, Kak Miumiu."

Pergerakan bola mata Miura mengikuti baris tulisan yang sedang dibaca, kehilangan fokusnya. Sebab itulah apa yang dibaca tak terserap dengan baik. Di detik pertama indra penciumnya disapa aroma maskulin parfum Askara—menandakan jika pria itu semakin dekat dari jangkauannya—kepalanya menunduk lebih dalam lagi. Meski sudah berusaha bersikap setenang mungkin, namun jemarinya sulit sekali dikondisikan. Kentara sekali jika sedang gugup. Ketika membalik halaman majalah, tampak gemetar halus. 

"Kenapa diem aja? Yang tadi, dilanjutin dong. Aku penasaran loh, pengin tau. Pantesan apa?" desak Askara. Pandangannya jatuh ke bawah, menangkap seluruh tubuh Miura yang tampak begitu mungil, sewaktu dilihat dari atas. Bahunya kecil. Helaian rambut berjatuhan membingkai pipi. Jemari rampingnya meremat tepi majalah terlalu kuat.

Tidak ada reaksi berarti yang diperlihatkan. Miura begitu keras kepala mempertahankan aktingnya yang payah. Mencoba tidak terusik, dengan kehadiran pria yang berdiri menjulang tepat di hadapannya. Tetap tenang dan berlagak fokus sekali dengan bacaannya. Dia bawa pula jari telunjuknya menyentuh tulisan. Bergerak mengikuti barisan huruf, seraya menggerakkan bibir tanpa suara. Meski tiap detail pergerakannya begitu meyakinkan, namun sejatinya Miura tidak sedang membaca apapun. Matanya saja terus bergerak-gerak gelisah, tak siap melakukan kontak langsung dengan sepasang mata tajam yang sedang mengawasinya.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang