Chapter 56

19.7K 1.5K 117
                                        

P E M B U K A

P E M B U K A

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Aroma segar namun tidak terlalu tajam, menguar lembut di udara. Iringi perjalanan tungkai wanita yang terbungkus bathrobe satin berwarna merah tua. Bathrobe itu terlalu pendek untuk dijadikan pelindung, panjangnya saja tak becus menutupi keseluruhan paha. Membungkus longgar, sehingga pada bagian dada sedikit terbuka. Menampakkan tulang selangka dan lembah di antara kedua lereng dada, yang dihiasi jejak-jejak liar malam panas penuh gairah.

Di depan cermin, tungkainya berhenti diayunkan. Jemarinya menyentuh tepian wastafel marmer yang mengantarkan hawa dingin, ketika dia mulai mencondongkan badan guna memandangi refleksi dirinya. Dalam jarak dekat itulah, dia temukan gurat-gurat samar—tanda lelah setelah menghabiskan malam panjang—di bawah kelopak matanya yang sedikit layu. Dan meskipun sudah mandi serta keramas, nyatanya tak berhasil hilangkan kantuk sepenuhnya. Sisa-sisanya masih menggantung di matanya yang tampak memerah.

Bertepatan dengan Miura yang baru saja menundukkan kepala—menjatuhkan helaian-helaian rambut basahnya ke sisi depan sebelum dibungkus handuk—Askara muncul. Setelah jemarinya menyelipkan ujung handuk ke lilitan di pinggang, pria yang banyak berperan sekaligus mengambil kesempatan saat mereka mandi bersama, berjalan mengikuti jejak wewangian kesukaannya. Pria dengan handuk tergantung rendah itu pun, berakhir berdiri tepat di belakang Miura Nara. Sosoknya yang menjulang, berhasil mengejutkan wanita yang baru saja menyelesaikan kegiatannya.

"Mulai, mulai," cemooh Miura begitu menyadari bagaimana mata penuh hasrat milik pria di belakangnya, sedang menaruh minat pada tengkuknya yang terbuka. Sedetik kemudian, dia berjengit. Terkejut oleh tamparan ringan pada pipi pantatnya yang dilayangkan oleh tangan nakal Askara. Dan tangan yang sama, kini meremas-remas gemas pantatnya.

Tanpa hentikan gerakan tangannya, pria dengan nafsu otomatis menyala jika Miura Nara berada dalam jangkauannya, perlahan-lahan maju. Buat jarak tak seberapa itu semakin menyusut, hingga embusan napasnya yang hangat, mampu menyapu tengkuk wanitanya. Detik itu juga, remasannya berhenti total. Telapak tangannya mengubah gerakan menjadi belaian menyusuri lekuk pinggul. Lalu naik menuju pinggang dengan gerakan yang lebih intim, sebelum akhirnya menjerat mangsanya ke dalam rengkuhan dari arah belakang. Tangannya yang bertaut di depan perut, pun mengentak lembut hingga punggung Miura menempel erat pada dadanya.

Ketika bibir Askara terus mendekat membawa niat mencuri kecupan, Miura cepat-cepat balik badan. Tak beri izin berondong itu untuk melakukannya. Matanya yang berkilat penuh larangan, kini berhadapan dengan raut bersungut-sungut andalan pria di hadapannya—ketika keinginannya tak dipenuhi. Tak goyah meski berondong tantruman itu menggeram dan mengejar bibirnya sekali lagi, Miura menahan wajah Askara menggunakan telapak tangan. Mendorongnya menjauh.

"Sekaliii aja," mohon Askara penuh harap. Sorot matanya meredup, tatapannya terlihat putus asa. Raut mukanya dibuat-buat semelas mungkin. Seperti anak anjing yang tersesat sendirian di tengah badai seorang diri. "Mau cium Kak Miuuu," sambung si tukang drama. 

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang