Chapter 32

31.7K 2.3K 529
                                        

P E M B U K A

Kasih emot dulu buat chapter ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kasih emot dulu buat chapter ini

***

Fakta jika Miura Nara tidak suka diperlakukan layaknya gadis rapuh yang harus mendapat perlindungan setiap saat, adalah dasar bagi Askara dalam mengambil sikap ketika menemaninya pulang ke kontrakan malam-malam. Sebagai pasangan yang menghormati sisi mandiri kekasihnya, dalam melindunginya, dia berusaha agar tidak terlalu mencolok. Pergerakannya hanya sebatas menjaga jarak agar tetap dekat, namun tidak terlihat sedang mengawasi Miura dalam balut kekhawatiran.

Askara biarkan gadisnya melangkah tanpa digandeng, namun berondong itu selalu menjaga irama langkah. Pastikan sosoknya terlihat ketika gadis itu tiba-tiba melirik ke arahnya, sekadar memastikan jika tidak berjalan sendirian. Setiap kali menyadari yang lebih tua memelankan langkah ketika mendengar suara-suara aneh, Askara segera menanganinya dengan balutan candaan yang membuat kekasihnya tertawa kecil, hingga lupakan kecemasan-kecemasannya.

Pada saat Askara menyadari jika ada sesosok pria asing di ujung gang-tepatnya di dekat tiang lampu jalan-tampak seperti sedang memperhatikan Miura, detik itu juga dia tukar posisi dan mulai mengatur ekspresi. Perlihatkan ketegasan di balik sikapnya yang tenang. Askara yang menganggap jika pria berandalan itu adalah sebuah ancaman tuk gadisnya, pun menggunakan sorot tajamnya untuk mengintimidasi. Memberi peringatan keras tanpa kata-kata pada berandalan itu.

Tanpa hentikan langkah, pacar berondong Miura bergerak menanggalkan kemeja tanpa kesulitan-meski salah satu tangannya menenteng barang bawaan cukup berat. Lepasnya kemeja, menyisakan singlet hitam yang melekat pas di tubuhnya, dengan maksud memamerkan sepasang lengan berotot, juga bahu kokohnya yang memberi kesan kuat. Sampaikan isyarat pada berandalan dengan postur kurus itu, untuk berpikir ulang jika hendak bertindak macam-macam pada sosok yang menjadi tanggung jawabnya. Sebab Askara tidak segan mengadu kekuatan fisik dengan siapapun yang mengusik gadisnya.

"Nggak usah sok jagoan, Cil," cemooh Miura saat mengetahui aksi heroik pacar berondongnya.

"Emang jagoan," balas Askara penuh percaya diri, lalu tersenyum ketika kehadirannya di sisi Miura saat ini, cukup untuk menjadi alasan mengapa pria di ujung gang itu pergi begitu saja. "Nggak inget siapa yang paling jagoan di SMA dulu?"

Miura menoleh dengan posisi dagu terangkat tinggi, supaya bisa menatap tampang pongah pacar berondongnya yang mengaku jagoan. "Cih. Bukan jagoan, tapi tukang rusuh," ralatnya di tengah ingatan masa SMA yang terputar otomatis di kepala. Tentang si anak kelas sepuluh yang suka membuat keributan dengan siapapun perkara gorengan.

"Gue nggak rusuh," elak Askara tidak terima. "Gue ngelindungi Kak Miumiu dari kakel yang suka korupsi. Kalau nggak dibikin babak belur, Sigit bin Tarno itu nggak bakal jujur. Orang selama dia nyomotin risol, gue itung dan emang makan enam biji, tapi ngakunya cuma dua. Makanya gue hajar dia buat ngeluarin risol yang empat biji itu dari perutnya."

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang