Chapter 54

19.1K 1.6K 95
                                        

P E M B U K A

P E M B U K A

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Pagi ketika Miura pada akhirnya datang lagi ke tempat peristirahatan terakhir ayahnya, masih berkabut tipis. Wanita yang dipaksa menemani Askara, hanya terdiam tanpa ada tenang dalam dirinya yang terus menggenggam erat kehampaan. Berdirinya memang tegak, namun di dalamnya rapuh, hanya dipaksa teguh dan utuh. Tatapannya kosong—tak ada rindu, pun tak ada tanda jika sedang mengenang masa lalu—melebur bersama kesunyian. Wajahnya sedikit menegang, datar tanpa ekspresi, juga tak ada satu pun doa yang dilangitkan sejak sepuluh menit datang.

Sama seperti sebelum-sebelumnya, Miura selalu berakhir linglung di tempat. Tidak tahu harus melakukan apa, setiap kakinya kembali memijak tanah di sisi pusara sang ayah. Bahkan tujuannya rutin datang, pun tidak tahu untuk apa, sebab pada dasarnya dia memang tak pernah datang membawa tujuan. Selama ini kedatangannya hanya sebatas meyakinkan diri, jika ayahnya memang benar sudah mati, sehingga dia tidak perlu merasa takut. Tidak perlu khawatir monster itu akan menyerangnya.

Sedangkan Askara,
sejak datang, pria itu langsung jongkok di dekat pusara bertuliskan nama Adipati Prasojo. Kelihatannya memang diam, namun kalimat-kalimat yang disampaikan lewat hati, terus menggema. Saling berdesakan, tak sabar ingin segera keluar. Teriakan kemarahan penuh penghakiman, serta kekecewaan atas apa yang pria itu lakukan pada anak perempuannya semasa hidup. Dia ringkas pula bagaimana dampak perbuatan mendiang hingga sekarang.

Lalu, ketika kepalanya menunduk lebih dalam, di keheningan yang semakin menggigit, datang sebagai pria yang bersungguh-sungguh ingin menjaga Miura Nara, dia pun sampaikan niat baiknya. Dengan tulus meminta restu, serta tekad penuh keteguhan untuk tidak meninggalkan—bahkan ketika semesta memberi beribu-ribu alasan tuk pergi. Meski apa yang disampaikan tak mendapat jawaban apa-apa, setidaknya hatinya kini terasa lebih lega, lebih tenang, dan jauh lebih ringan.

"Kak Miumiu mau doain papa dulu nggak sebelum pulang?"

Sontak Miura menoleh dengan gerakan tampak gelisah. Menatap seluruh jemari Askara yang meraba nisan, singkirkan debu yang menempel di sana. Saat itu, bibirnya sudah sempat terbuka. Seperti hendak mengatakan sesuatu, namun secara mendadak kembali terkatup rapat tanpa ada suara keluar. Keraguan mencengkeram, menghentikannya.

"Askara ...." Kebimbangan menggantung jelas di matanya yang berubah sayu. Sampai sekarang, ketika dia mulai belajar berdamai dengan beberapa hal di luar kendalinya, dia tidak benar-benar tahu. Apakah hatinya cukup lapang untuk mendoakan seseorang yang telah menggores luka terlalu dalam, sedangkan di setiap retakannya ada luka yang membuatnya tumbuh menjadi seorang pembenci.

"Mau pulang sekarang atau—"
Sebuah sentuhan ringan nyaris tak berasa dan sarat akan keraguan, hinggap di bahu ketika Askara hendak beranjak dari posisi jongkoknya. Menoleh hingga menemukan jemari ramping Miura, dia memaknai sentuhan itu sebagai permintaan untuk tetap tinggal. Karenanya, pria itu tetap di tempat. Menunggu dengan sabar apa yang akan wanitanya lakukan, tanpa bertanya, tanpa mendesak tuk lakukan segera.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang