Mulanya, maksud Miura Nara menerima pernyataan cinta berondong tengil yang terus mengganggunya, adalah untuk membuatnya kapok. Dia sudah menyiapkan 1001 tingkah menyebalkan yang akan ditunjukkan selama masa uji coba berpacaran. Dengan begitu, berond...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kasih emot dulu buat chapter ini
***
Btw ini alurnya ngikutin scene terakhir chapter 33 bagian 2 (21+) yang di Karyakarsa.
Setelah digempur 2 chapter di Karyakarsa :((
***
"Askara ...." Miura mengerang kesal sebagai aksi protes. Tatapan nanar yang dilempar, membuat pria di hadapannya tersenyum kikuk.
Seketika itu juga, pijatan lembut di payudaranya dihentikan. Kini berondong yang ditugasi memandikannya, membawa kedua telapak tangan penuh buih ke bahunya. Bergerak turun menuju lengannya yang kecil. Dan sedikit lebih lama saat mengelus—menyabuni—area punggung.
Dari shower box berbahan kaca yang mulai berembun—hasil dari uap air hangat—hingga membuat permukaanya buram, tampak siluet dua manusia dengan proporsi tubuh cukup jauh. Dimana yang lebih kecil dan pendek, mengangkat tungkainya ketika si tinggi besar itu bertekuk lutut di hadapannya. Tepat saat tungkai itu menyentuh lutut, si jangkung segera mengelus-elusnya. Menyabuni dengan telaten mulai dari sela-sela jari kaki, hingga mencapai paha dalam.
" ... gue bisa sendiri," celetuk Miura ketika liang senggamanya hendak dibersihkan. Sisa-sisa energinya masih cukup kok kalau hanya untuk membersihkan bagian itu.
"Nggak papa, biar gue aja," timpal Askara setelah membilas bersih tubuh Miura. Gunakan sabun khusus, begitu memandu Miura tuk memberinya akses dengan melebarkan kaki, dia bergerak lembut bersihkan bagian luar hingga lipatan. Dengan tangan kanan memegang shower, tangan kirinya membersihkan dari arah depan ke belakang. Terakhir, Askara raih handuk lembut dan bersih yang tersampir di pundak kirinya, lantas gunakan kain itu untuk mengeringkannya. Dia tepuk-tepuk perlahan sampai benar-benar kering.
Pria berbadan kekar itu, lantas berdiri. Tanpa aba-aba, usai membebat asal-asalan rambut basah Miura dengan handuk, dia langsung membopong tubuh yang lebih tua dengan mudahnya tanpa ada protes ataupun pemberontakan. Lantaran kamarnya sangat berantakan dengan aroma sex yang menguar kuat, maka Askara membawanya ke kamar lain—tentunya setelah persetujuan dari Miura.
Setibanya di kamar yang jarang sekali ditempati, setelah memakai setelan kasualnya dengan tergesa-gesa hingga tidak sadar kalau kausnya terbalik, Askara urus kekasihnya dengan telaten. Dia pakaikan pakaian hangat, juga urus rambut perempuan itu. Mulai dari mengeringkan hingga mengikatnya—meski hasilnya tidak terlalu rapi.
"Mau makan malem pakai apa, Kak? Biar gue orderin. Atau mau gue masakin?"
"Langsung tidur aja, capek banget," gumam Miura lalu menjatuhkan tubuhnya dengan kaki dibiarkan menjuntai.
Di hadapan perempuan yang dia renggut keperawannya, Askara terkekeh geli sewaktu menyaksikan bagaimana kelopak mata Miura menutup—di detik pertama punggung sempitnya bersentuhan dengan kasur. Ingatannya seketika terlempar pada momen di saat kedua tangan kecil banjir peluh, terpeleset dari dinding, sebab tak mampu lagi dijadikan tumpuan sewaktu menungging dan dientak kuat dari arah belakang. Bagaimana perempuan itu memohon, namun sedetik kemudian mendesah nikmat di tengah kaki lemas yang mulai gemetar, saat menerima entak-entakan liar tanpa jeda, hingga hampir saja ambruk—jika dia tidak segera merengkuh pinggangnya—terekam jelas. Ahhh, rasa-rasanya Askara ingin mengulanginya lagi. Dia belum—mungkin tidak akan pernah puas. Nafsunya selalu haus akan tubuh Miura Nara.