Chapter 49

22.5K 1.8K 264
                                        

P E M B U K A

P E M B U K A

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

"Jangan sampai ketuker loh, ya, Mbul sandwichnya. Kak Miu itu nggak suka mozzarella. Kalau sampai ketuker, liat aja ... kamarmu bakalan penuh sama ulet bulu," celetuk Askara. "Dan satu lagi, kalau pagi Kak Miu lebih suka minum air mineral. Yang tumblr lotso, buat Kak Miu. Susu cokelat buat Mbul di tumblr yang kuromi."

Remaja dengan bandana berwarna biru pastel bertabur motif bunga matahari kecil, menghela napas lebih dramatis dari sebelumnya. Bibir lembut yang tampak berkilau oleh lapisan lip gloss itu pun mengerucut, mempertegas raut mukanya yang menampilkan ekspresi protes, juga bosan mendengar kalimat Mas Askara yang terus saja diulang-ulang. Melody lantas menyilangkan tangan di dada, sebelum akhirnya beringsut ke sisi pintu mobil hingga kini menghadap kakaknya yang menyebalkan. "Mas kasih sendiri aja sana! Jangan suruh-suruh aku! Aku marah karena Mas cerewet banget—ngomong itu-itu mulu dari tadi. Kan aku nggak suka dibegituin, nyebelin tauu. Kesannya kayak aku, tuh, nggak bisa dipercaya. Kalau sesusah itu buat percaya, kenapa nggak ngasih sendiri sih?"

Askara yang panik, gagal menyembunyikan paras penuh kekhawatiran sewaktu mendapati reaksi sang adik. "Jangan marah dong, Mbul. Okay, okay, Mas nggak begitu-begitu lagi ke Mbul. Tadi beneran yang terakhir," rayu Askara dengan sorot penuh bujukan. Dibandingkan saat mewanti-wanti, nada yang digunakan untuk merayu jauh lebih lembut. Disisipi pula nada-nada penuh penyesalan, juga raut yang dibuat semelas mungkin, sebab dia tahu betul jika adiknya adalah golongan orang tidak tegaan. "Mbul tetep bantu Mas kasih sandwichnya ke Kak Miu, ya?"

"Kok nggak minta maaf dulu? Tadi, kan, habis buat aku marah kecil. Kenapa langsung suruh-suruh tanpa minta maaf? Memangnya terpuji kelakuannya begitu?"

"Ahh iya. Maafin Mas, ya, karena udah bikin Mbul marah," kata Askara dengan nada terkesan dipaksakan. "Mbul mau maafin Mas, kan?"

"Iya, mau. Kan sama saudara nggak boleh marahan lama-lama," jawab Melody.

"Terima kasih, ya, Mbul." Lega rasanya. Askara pikir, adiknya akan sulit dibujuk dan banyak drama. Ternyata tidak. "Oh ya, Mbul ada rencana buat makan siang nanti nggak?"

"Ada. Rencananya aku mau traktir Kak Miura mam nasi padang di Siang Malam."

"Waaah! Ide bagus, tuh! Pasti bakalan seru banget."

"Mas mau ikut? Nanti aku traktir juga, karena hari ini Mas udah luangin waktu buat anter aku kerja."

"Pengin, tapi Mas nggak bisa ikut. Mas boleh minta tolong lagi nggak, Mbul?"

"Boleh, tapi kalau bisa jangan yang susah-susah. Kalau susah, aku nggak janji, tapi bakal aku coba usahakan dulu."

"Nggak susah kok, Mbul. Mas cuma mau minta tolong, pas mam bareng nanti, Kak Miumiu langsung diambilin menu yang enak-enak ya? Mbul, kan, paham banget mana aja yang enak, yang wajib banget dicobain kalau mam di Siang Malam. Kak Miu, tuh, kalau sekedar ditawarin, pasti banyak nolaknya, dan bingung juga kalau menunya asing buat dia. Padahal dia kalau nyobain makanan baru yang enak, bakal happy banget."

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang