Chapter 48

20.6K 2K 307
                                        

P E M B U K A

Swnyum dulu sampe giginya kering 😁😁😁😁😁😁😁

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Swnyum dulu sampe giginya kering
😁😁😁😁😁😁😁

***

Askara terdiam lama.
Sepasang netranya semakin memerah berbingkai luka. Basah seluruhnya oleh genangan air mata yang tidak kunjung jatuh sebab ditahan—seolah-olah menggambarkan bagaimana dirinya ingin menahan Kak Miumiunya supaya tidak pergi. Kilau genangan air mata penuh kesedihan itu, memantulkan sosok yang begitu kejam meruntuhkan dunia yang dia bangun penuh harapan, dalam sekejap mata. Untuk saat ini, isi kepalanya terlalu kacau oleh gejolak yang tidak sanggup diungkapkan. Sehingga membiarkan dirinya hancur dalam diam. Masing-masing tangannya yang melingkari pinggang Miura, pun berakhir jatuh terkulai di sisi tubuhnya.

Dalam kebingungan yang menggantung, suaranya tercekat dan dadanya semakin nyeri akibat ekspresi yang Miura tunjukkan. Bagaimana wanita itu tetap terlihat tenang—tidak sedikit pun memperlihatkan kesedihan sebagaimana dirinya—membuatnya berpikir jika hubungan yang mungkin dia perjuangkan sendirian, tidak cukup berharga untuk Miura Nara. Kehilangannya mungkin tidak berarti apa-apa, dunia perempuan itu tetap baik-baik saja.

Bibir Askara yang sedikit bergetar, terbuka. Namun belum sampai ada satu kata pun lolos, kembali terkatup rapat. Lewat tatapan, pria itu terus menuntut penjelasan. Mempertanyakan dimana letak kesalahannya biar bisa diubah, diperbaiki, disesuaikan dengan kemauan perempuan itu—tidak tiba-tiba begini. Lewat tatapan yang semakin redup, Askara ingin sekali mendengar penjelasan masuk akal, agar dirinya tidak seperti orang idiot, ketika Miura mengakhiri hubungan dengannya tanpa alasan. Sebanyak apapun waktu yang Kak Miumiunya perlu guna menjelaskan semuanya, pasti dia berikan.

" ... sefatal itu, ya, kesalahanku sampai jadi kayak gini?" tanya Askara dengan suara gemetar, nyaris tak terdengar. Setiap kata yang meluncur, membawa serta serpihan hatinya yang hancur. Tak peduli jika terlihat menjadi laki-laki lemah di hadapan perempuan setegar Miura, dia menjatuhkan air mata. Mengalir membasahi pipi. Menunjukkan seberapa dalam lukanya saat ini. "Karena aku bantuin Tante Nadira sama Jeremy, ya, Kak?"

Apabila diselami lebih dalam, seulas senyum yang Miura perlihatkan pada saat menyeka genangan air mata di pipi Askara, ada kegetiran terselip di sana. Dan senyum itu bukanlah jenis senyum yang muncul untuk mengekspresikan kebahagiaan, melainkan senyum yang digunakan untuk membalut luka menganga dari hati yang terkoyak. Di balik sorot setenang laut tak berombak, sebetulnya perempuan itu sedang menahan terjangan gelombang yang menggulungnya ke dalam kesedihan yang diciptakan sendiri. 

Bukan hanya Askara, Miura pun sama terlukanya—bahkan luka akibat pisau yang dia tikamkan ke hatinya sendiri,  mungkin jauh lebih dalam. Dan luka itu semakin parah ketika dia dituntut untuk tidak menunjukkannya. Berpura-pura keputusannya tak meruntuhkan dunianya. Tersenyum guna menenangkan sosok yang menyelipkan kekhawatiran dalam dukanya, meski jauh di dalam sana hatinya tergores.
"Ahh cengeng! Masa diputusin doang, nangis kayak anak kecil nggak dikasih permen," kelakarnya lalu membingkai pipi pria terbaik yang pernah hadir dalam hidupnya. "Kalau Melody tau masnya secengeng ini, pasti bakal diledekin sampe tahun depan. Mau diledekin sama Mel?" sambungnya diikuti kekehan geli yang membuatnya takjub pada diri sendiri, sebab tidak menangis. Intonasinya pun terdengar jelas. Bahkan mampu menyisipkan senyum, disaat hatinya benar-benar hancur.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang