Chapter 58

20.3K 1.5K 74
                                        

P E M B U K A

P E M B U K A

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Peluk.
Sesederhana itu yang Miura minta, namun Maya tak serta merta memberikannya. Wanita itu terdiam cukup lama, terjebak dalam waktu yang seakan-akan membeku. Sepasang netranya yang tajam namun rapuh di saat bersamaan, untuk pertama kalinya memandang Miura begitu dalam. Matanya tak sekadar singgah sesaat, namun menetap begitu lama, mencoba menyelam hingga menyentuh dasar. Anehnya, semakin lama melakukan itu, bukannya terikat oleh kehangatan, Maya justru dibuat semakin asing dengan sosok yang saat ini berdiri menanti pelukan darinya.

Bukan.
Bukan karena paras putrinya berubah secara fisik, seiring tumbuh dewasa. Namun perasaan asing itu tumbuh karena pada akhirnya Maya menyadari betul-betul, jika selama ini dirinya tak pernah benar-benar memperhatikan Miura Nara. Dia tak benar-benar mengenal sosok yang tumbuh meraba-raba mencari jalannya sendiri. Buruknya lagi, dia tak tahu apa-apa tentang Miura. Sekadar memaknai tatapan putrinya saat ini saja, Maya tak mampu. Saat diselami, pun semuanya terasa sangat asing baginya, kecuali reruntuhan luka yang mungkin telah Miura terima, sehingga ditata sedemikian rapi tuk menjadi bagian dari diri anak itu.

"Miura."
Matanya memanas, ketika kenangan lama menyerbu isi kepala hingga membuat riuh yang menggerus ketenangan. Tanpa bisa diredam, dia terus dipaksa menyaksikan tayangan dengan detail begitu menyayat kalbu, tentang betapa buruk dirinya sebagai ibu dalam memperlakukan Miura Nara. "... kamu boleh benci Mama, nggak papa. Mama pantas buat dibenci sama Miura. Silakan benci Mama semau Miura. Benci Mama seumur hidup Miura. Atau kalau mau pukul, pukul Mama sampai Miura puas. Kalau itu bisa bikin kamu ngerasa lebih baik, lakuin. Lakuin apa yang bisa bikin kamu tenang, Miura. Lakuin apa yang bisa bikin rasa sakitmu berkurang. Sekarang, biar Mama aja. Biar Mama yang sakit, Miura jangan lagi."

"Buat apa, Ma?" respons Miura begitu tenang. Untuknya yang pernah menjadi seorang pembenci, Miura paham betul-betul, jika menjadi sosok seperti itu sangatlah melelahkan. Tidak ada yang membaik dari membiarkan api kebencian menyala di dalam hatinya. Kebencian itu justru membakar ketenangan yang susah payah dia dapatkan. "Aku nggak mau kayak gitu-gitu lagi. Nggak mau, nggak ada gunanya."

Perlahan, Maya beranjak menembus batas-batas ragu. Ada gemetar halus pada jemarinya, ketika keyakinan yang terhimpun, cukup untuk membuatnya berani mengangkat tangan—yang terasa begitu berat akan beban penyesalan. Dengan penuh kehati-hatian, sebab begitu takut menyakiti lagi, dia menyentuh bahu kecil putrinya. Pelan, pelan sekali. Nyaris tidak terasa.

Tanpa tahu cara bagaimana mendekap Miura Nara dengan benar, Maya akhirnya merangkul ragu sosok yang telah lama diabaikan. Dan di balik segala keraguan serta ketakutan yang begitu menyiksa, Maya menjadi tidak tahu diri. Berharap jika pelukan ini, dapat berarti bagi Miura. Dapat menebus kesalahannya di masa lalu. "Mama menyesal, Miura. Maafin Mama, Mama banyak salahnya sama Miura." 

Detik di mana tangan Maya melingkari tubuhnya, jiwa Miura terguncang hebat. Di saat bersamaan, jantungnya juga memukul telak dadanya. Terlalu keras, hingga datangkan nyeri. Sejenak, wanita itu terpaku menghadapi gemuruh di dalam rongga dadanya. Mencoba memahami perasaan tak keruan yang timbul dari ketidak percayaannya, bahwa pelukan yang terasa canggung, asing, dan kaku ini, benar-benar nyata untuknya. Bahwa benar dia akhirnya mendapatkan apa yang sejak dulu diminta—namun tak pernah diberi.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang