Extra Chapter 4

19.4K 1.2K 32
                                        

P E M B U K A

Area di bawah mata sembab Miura, tampak menggelap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Area di bawah mata sembab Miura, tampak menggelap. Sisakan cahaya samar sarat akan lelah yang tak bisa disembunyikan, sehingga membuat sorotnya semakin redup—nyaris kehilangan cahayanya. Pipinya yang menirus pun kehilangan rona alaminya sehingga terlihat pucat. Terasa dingin sewaktu disentuh. Di beberapa area terutama dahi, pelipis, dan leher, basah oleh keringat yang bermunculan pasca hadapi serangan mual pagi ini.

Secara keseluruhan, hamil trimester pertama memang membuat tubuh mungil Miura Nara terlihat ringkih. Sebab paginya selalu diawali dengan agenda muntah-muntah parah. Bahkan gejolaknya sering kali datang sebelum wanita itu terjaga dari tidurnya.

Pagi penuh oleh detik-detik yang terasa melambat—seolah sengaja memperpanjang rasa tak nyaman yang muncul akibat dihajar gelombang mual—memang melelahkan. Fakta itu tak bisa dipungkiri. Namun di balik semua itu, Miura perlu bersyukur karena memiliki pasangan seperti Askara—sosok sigap yang tahu harus melakukan apa tanpa perlu diminta. Tak pernah mengeluh, selalu memiliki ruang sabar, tak pernah kehabisan kata-kata lembut setiap kali memvalidasi emosinya yang semakin tak terkontrol. Buat semuanya tak terasa berat, sebab dijalani bersama orang yang tepat. Dan bagaimana baik dirinya diperlakukan oleh suaminya, tak akan pernah dia lupakan seumur hidup.

"Kamu sayang nggak sama aku?"
Pertanyaan itu dilayangkan, hanya selang sedetik setelah akhirnya Askara bisa duduk. Sebelumnya, pria itu sibuk mengurusnya sejak pukul tiga pagi. Mulai dari mengganti pakaiannya yang terkena muntahan, membalurkan minyak hangat di punggungnya, hingga memijat kaki dan kepalanya.

"Sayang—sayang banget," ungkap Askara tanpa ragu, tanpa keluh meski pertanyaan serupa terus ditanyakan oleh Miura. "Kalau boleh jujur, aku belum nemu kata atau kalimat yang tepat buat ungkapin rasa sayangku."

"Walaupun akhir-akhir ini aku nggak ngurusin kamu, malah ngerepotin dan bikin kamu susah? Mana lemah, udah gitu cengeng lagi. Beneran tetep sayang sama aku yang kayak gitu?"

Askara tersenyum teduh, kala menatap lekat ke arah mata sayu Miura Nara. "Sayang, kamu harus tahu apa yang aku rasain akhir-akhir ini. Demi Tuhan, aku nggak pernah berpikir kalau kamu ngerepotin. Ngeliat kamu terus-terusan muntah, aku justru makin sayang. Makin pengin jagain kamu dan selalu khawatir berlebihan kalau kamu nggak ada di sisiku. Aku juga jadi lebih hati-hati lagi, soalnya beneran setakut itu nyakitin kamu yang lagi berjuang keras ngelewatin ini. Satu kali pun, aku nggak pernah mikir jelek soal kamu. Yang aku pikirin, tuh, gimana caranya supaya kamu tetep nyaman di kehamilan pertama ini. Gimana biar kamu tetep bahagia, biar selalu semangat—apapun ujiannya. Gimana supaya aku bener-bener berguna, dimampukan ambil peran semaksimal mungkin. Lagian, kamu kok bisa kepikiran gitu hmm?"

"Yaaa bisa aja kan? Siapa tau kamu lagi capek, malah dibikin makin capek sama aku, jadinya emosi."

"Mungkin aja sih, tapi aku nggak mau, dan berusaha ngontrol diri buat nggak kayak gitu. Soalnya—walaupun nggak ngerasain—aku bener-bener paham situasinya. Pasti nggak nyaman banget disaat banyak nikmatmu yang ditarik. Bahkan sekedar pengin tidur nyenyak aja, kamu kesulitan," terang Askara.  "Berhubung kemampuanku terbatas, yang mana aku nggak bisa pindahin semua rasa nggak nyamanmu ke tubuhku, aku cuma bisa usahain hal-hal kecil yang mungkin bisa bantu kamu. Aku bakal usahain jadi suami yang bisa diajak kerja sama."

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang