Mulanya, maksud Miura Nara menerima pernyataan cinta berondong tengil yang terus mengganggunya, adalah untuk membuatnya kapok. Dia sudah menyiapkan 1001 tingkah menyebalkan yang akan ditunjukkan selama masa uji coba berpacaran. Dengan begitu, berond...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mungkin karena papinya udah sakit-sakitan begini, jadi nggak dibutuhin lagi sama Mbul," kata Manggala yang mulai banyak drama sejak diserang demam semalam, kemudian membuka kelopak mata tanpa melepas genggaman dari selimut yang menjadi satu-satunya pegangan, ketika dia melawan badai besar paling mengerikan sendirian. Pria yang tergeletak tak berdaya setelah kain basah di dahinya diganti—padahal sebetulnya sudah tidak diperlukan, sebab demamnya sudah turun—menampilkan sorot sendu. Ciptakan kesan lemah, berharap belas kasihan. Nawasena Manggala memang sangat tahu caranya mencuri perhatian.
Sejatinya, sewaktu mendadak diam tak berkutik ketika Viola mengeluarkan khodam knalpot brong-nya, Manggala bukan takut karena dimarahi sang istri. Melainkan takut karena diancam tidur sendirian sampai minggu depan. Jadi, ancaman Melody barusan, tidak berarti apa-apa. "Ya makanya Mbul jangan pergi sama Jeremy, di rumah aja ngerawat Papi yang lagi sakit-sakitan. Nanti kalau Mbul pergi, terus terjadi sesuatu sama Papi, gimana? Mbul nggak takut nyesel?" tanya si pemilik sorot yang dibuat-buat sayu, sengaja ingin menyentuh hati lawan bicaranya.
"Pipooo!"
Teriakan nyaring dengan nada riang dan semangat penuh, adalah tanda berakhirnya drama Manggala. Dalam sekejap, pria yang semula bertingkah selayaknya tokoh bernasib tragis—memiliki penyakit mematikan dan divonis sisa hidupnya tidak lama lagi—terlihat bugar. Dia menyibak selimut, singkirkan kain tebal yang membuatnya gerah, lalu bangkit hingga kain basah di dahinya jatuh. Tak lagi peduli soal itu, seorang kakek yang merindukan cucunya, berjalan tergesa membukakan pintu kamar menyongsong datangnya Naka.
"Lah? Perasaan tadi ...." Melody geleng-geleng kepala memperhatikan interaksi papinya dan Naka. Berarti, benar kata Mamiw Pio, papi demam karena kangen Naka. Biarpun kedatangan si cucu satu-satunya itu tidak ada bedanya dengan badai yang merusak, Manggala tetap menyambutnya dengan suka cita. Tidak pernah kapok meski malam setelah mengasuh cucunya seharian, punggung menjadi pegal-pegal, nyeri pinggang kambuh, kepala nyut-nyutan, dan telinga sakit pasca digeruduk teriakan Naka yang beradu dengan berisiknya suara mainan bocah itu.
"Mimo bilang, Pipo sakit dari tadi malem," kata Naka. Mata bulatnya menatap penuh rasa iba pada wajah pria yang sedang menggendongnya. Puas memperhatikan wajah calon pasiennya, si dokter kecil itu berkata, "aku ke sini mau periksa Pipo."
"Waaah! Terima kasih, ya, Dokter Naka."
"Pipo tidur di kasur, aku mau periksa dahinya yang kata Mimo panas."
Pasien dokter Naka, patuh. Pria itu berjalan dengan membawa serta dokter pribadinya di gendongan. Lalu menurunkannya di ranjang, sebelum akhirnya dia berbaring. Siap diperiksa oleh dokter yang mengenakan kemeja putih berlengan pendek dengan saku tampak terisi penuh. Entah apa isinya, Manggala hanya melihat ujung suntikan mainan berwarna biru.