P E M B U K A

***
"Anak kecil," eja Askara dengan nada geli penuh ejek, pada nama kontak adiknya yang tersimpan di ponsel Jeremy.
Sesaat setelah benda pipih itu berhenti bergetar, tanpa alihkan pandangan dari layar yang berubah gelap, sudut-sudut bibirnya ditarik hingga membentuk seringai—sebuah ejekan untuk dirinya yang telah dibodohi. Dia lantas mendongak, menoleh pada sahabatnya seraya memperlihatkan jenis senyum getir penuh ketidakpercayaan. Sejak saat itu, suasana dalam ruang tamu yang semula penuh kehangatan, berubah. Kehangatan itu perlahan-lahan memudar, meninggalkan jejak sunyi yang membuat ketegangan semakin jelas terasa, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Askara," panggil Miura lirih, kemudian menyiapkan senyum selama menunggu respons pacar berondongnya. Dan sesaat setelah membasuh wajah dengan telapak tangan kosong, pria itu akhirnya mau menatapnya. Membuatnya dapat melihat kilat penuh amarah di tatapannya yang menajam. Mencoba meredakan amarah dengan cara paling sederhana, perempuan itu meraih tangan Askara yang terkepal
di meja. Berkat elusan yang diberikan, kepalan tangan itu perlahan-lahan terbuka. Membuat Miura bergerak menyelipkan jari, menautkan dengan jemari pria yang lebih muda. "Dibicarain baik-baik dulu, jangan kebawa emosi Cil."
Sementara yang dinasihati, tidak mengatakan apa-apa. Hanya menghela napas lebih panjang dari sebelumnya, di tengah upaya mengendapkan emosi.
Ketika tatapan tajam kakaknya beralih padanya, Melody spontan menunduk dalam-dalam—sebab tak memiliki nyali cukup untuk menghadapi sang kakak yang menyorot dengan cara berbeda. Dia memilih menatap kedua tangan mungilnya yang saling menggenggam di pangkuan, dalam keadaan jemari gemetar. Bibir bawahnya dia gigit kuat-kuat, berharap mampu redakan badai dahsyat yang menerjang jiwanya. Namun kenyataannya, tak memberi pengaruh apa-apa. Remaja itu bahkan merasa jika suasana hatinya justru semakin memburuk.
Di balik rasa cemas yang terus mengikis ketenangan, riuh di kepalanya semakin menjadi-jadi. Penuh dan sesak oleh kemungkinan-kemungkinan buruk. Terutama reaksi papi, serta bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Jeremy. Membayangkan jika semua berakhir tidak baik, sorot matanya semakin meredup—sarat akan ketakutan. Bahkan kini sudut-sudut matanya mulai digenangi oleh cairan bening, yang berkilau tertimpa cahaya lampu ruang tamu.
"Melody," panggil Askara supaya adiknya mendongak menatapnya. Dia tidak mau bicara kalau lawan bicaranya menunduk. "Liat Mas, Mas mau ngomong sama Mel."
Perintah barusan, menambah beban yang terus menekan kuat dadanya, menghimpit dengan begitu kejam. Melody bergeming, jemarinya bergerak semakin resah mencoba mencari-cari pegangan. Alih-alih mengangkat kepala, remaja yang merasa begitu tertekan itu, justru semakin menunduk. Benar-benar tidak berani melakukan kontak mata dengan kakaknya. Menghidupkan naluri Jeremy untuk memberi perlindungan dengan cara mengulurkan tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Trouble
RomanceMulanya, maksud Miura Nara menerima pernyataan cinta berondong tengil yang terus mengganggunya, adalah untuk membuatnya kapok. Dia sudah menyiapkan 1001 tingkah menyebalkan yang akan ditunjukkan selama masa uji coba berpacaran. Dengan begitu, berond...
