Extra Chapter 2

19.7K 1.6K 174
                                        

P E M B U K A


Di jam-jam udara pagi kian menggigit, pria berwajah lesu akibat masih dikuasai kantuk, mulai menunjukkan sinyal kurang baik. Sepasang alis tebalnya yang membingkai mata, saling bertaut hingga menciptakan kerutan-kerutan halus di dahi, ketika bibirnya yang kehilangan puting istrinya mulai bergerak-gerak dengan bunyi cecapan—mencari keberadaan si mungil yang seharusnya masih berada di dalam mulut hangatnya.

Kelopak mata yang masih terasa begitu berat, pun perlahan-lahan dibuka tuk pastikan sesuatu. Ketika lagi, lagi, dan lagi istrinya ingkar janji, wajah yang telah berhasil menipu orang-orang di kantor baru hingga takut dan segan setiap kali berinteraksi dengannya, kontan merengut kesal disusul gerutuan tak terdengar jelas. Tindakannya kontras sekali, semua orang pasti setuju jika manjanya tidak cocok untuk struktur muka dan otot-otot kepunyaannya yang memberi kesan gagah tak terbantahkan.

Lalu, si berondong tantruman itu menekan kuat pipinya ke bantal, disertai gerakan menyingkirkan selimut di ujung kaki dengan kasar, saat bibirnya mulai mengerucut lucu. Sebuah ekspresi yang akhir-akhir ini menjadi pembuka drama Askara Tarachandra Manggala di setiap paginya, hanya karena masalah sepele. Sesepele perkara istrinya menarik puting dari mulutnya, saat dia telah tertidur pulas—seharusnya dibiarkan saja. Itu, kan, sudah menjadi hal miliknya.

Bayi bukan sembarang bayi itu pun bangkit. Duduk tanpa melakukan sesuatu pada rambutnya yang awut-awutan, Askara terdiam lama. Sesaat kemudian, dia beringsut mendekati istrinya. Lantas raih bahu kecil wanita yang berbaring memunggunginya, untuk selanjutnya ditarik tanpa kekuatan berlebihan hingga telentang. Jika normalnya bayi pada umumnya hanya bisa menangis keras-keras sebagai bahasa meminta nyot-nyot, maka bayi ajaib satu ini, berbeda. Dia bergerak mandiri membuka tanpa kesulitan satu per satu kancing piama milik Miura Nara. Hingga total ada tiga kancing berhasil dilepas.

Melihat apa yang disuguhkan di hadapannya, Askara si bayi jadi-jadian itu pun nyengir lebar. Menatap penuh minat pada lembut payudara sang istri. Mata kantuk yang semula berkilat kesal, berubah dalam sekejap. Kini tampak segar dengan binar cerah. Tak ada sisa-sisa kantuk menggantung di sana, sebab seluruhnya telah disingkirkan oleh hasrat.

Tanpa meminta izin pada empunya, pria dengan hormon semakin tak terkontrol hingga membuat pengeluaran untuk kebutuhan di kamar mandi—terutama sampo, naik 5 kali lipat semenjak menikah, pun membenamkan wajah ke payudara sekal istrinya. Rasakan tanpa penghalang, bagaimana lembut, kenyal, juga hangat kulit dada wanitanya yang membelai wajah.

Pria yang dicap semakin mesum oleh Miura Nara, perlahan memejamkan mata. Sebab ingin lebih menikmati kehangatan yang menjalar hingga ke dalam jiwanya. Lantas menekan-nekan hidung ke payudara istrinya, curi seluruh harum tubuh wanita yang sudah menjadi candu untuknya. Dengan gerakan penuh niat, Askara menjulurkan lidah. Sentuh pucuk dada istrinya dengan jilatan-jilatan sensual hingga basah seluruhnya dan menghasilkan kilau menggoda. Sesekali, ujung lidahnya akan memberi tekanan disela belaian,   juga gigitan-gigitan pelan yang membuat empunya terusik dan mengerang lirih.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang