Chapter 57

18K 1.7K 159
                                        

P E M B U K A

P E M B U K A

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Tap! Tap! Tap!

Gema kaki berlari, terdengar mendekat. Ritmenya cepat, penuh semangat. Terkesan buru-buru, tanda tak sabaran. Suara itulah yang memecah konsentrasi Miura, hingga menghentikan kegiatan menguntai manik-manik yang berkilau lembut. Keningnya seketika mengernyit, sewaktu menatap berondong yang mengerem mendadak begitu kontak mata dengannya. Karena itulah, yang lebih muda berakhir oleng ke samping dan membentur tepi meja. Buat Miura memekik khawatir, namun saat hendak beranjak, pria itu memberi isyarat padanya untuk tetap di tempat.

Pasca beri kode jika dia tidak memerlukan bantuan, Askara bergerak menyelamatkan vas bunga yang guling karena guncangan dari tubuhnya. Sesaat setelah mengembalikan vas ke posisi semula, pria ceroboh itu menegakkan punggung. Dia lantas tersenyum kikuk—serupa anak kecil tertangkap basah melakukan kesalahan—seraya menyentuh sisi perutnya. Menyadari jenis tatapan seperti apa yang Miura arahkan tanpa senyuman, sorotnya meredup. "Maaf, Kak Miuuu," ujarnya dengan suara pelan.

"Sini! Coba liatin perutnya, takut kenapa-kenapa yang tadi kena meja."

Perhatikan baik-baik langkahnya, Askara ayunkan tungkai mendekati Miura. Tanpa canggung, dia mengangkat ujung kausnya. Perlihatkan perut bagian samping yang tadi membentur meja. "Nggak papa kok perutnya, tadi nyutnyut dikit, tapi udah nggak nyutnyut lagi," akunya dengan memasang raut begitu lugu. 

Tangan kanan Miura terangkat.
Jemarinya menyentuh pelan perut berondong itu, mengusap-usapnya lembut. Barangkali masih ada rasa sakit tertinggal. Tanpa disengaja, sepasang netranya mendapati jika ritsleting celana pendek Askara belum dinaikan, sehingga dia bisa melihat sesuatu di dalam sana. Karenanya, beranjak dari perut, jemari ramping wanita itu bergerak cepat mengurus celana pria yang tertawa kecil—menertawakan keteledorannya. "Bisa-bisanya ...."

"Tadi buru-buru, Kak Miuuu," terang Askara dengan nadanya yang khas jika sedang berperan menjadi sosok manja di hadapan Miura Nara.

Bangkit, Miura berdiri seraya melipat tangan di dada. Matanya menajam, meneliti penampilan berondongnya yang jauh dari kata rapi. "Kamu beneran udah mandi?" tanyanya sangsi. Jemarinya menyisir helaian-helaian rambut Askara yang teracak berantakan di dahi. Menaikkannya ke sisi belakang, namun kembali berjatuhan.

"Udah," respons Askara cepat, lalu menatap ke bawah—memeriksa penampilannya; apakah seburuk itu, sampai-sampai Kak Miumiu ragu jika dia sudah mandi. "Emang kayak yang belum mandi, ya?"

"Cepet banget, nggak nyampe sepuluh menit udah balik ke sini lagi. Terus, kenapa nggak sekalian keramas? Nggak risih sama rambutnya, lepek gini." Miura mengomentari rambut yang baru saja dia jumput sebagian.

"Aku beneran udah mandi kok—mandi kilat, nggak yang lama-lama. Tapi tetep bersih, wangi juga."

Tanpa aba-aba, Miura membuat jarak di antara mereka menyusut sampai nyaris tak tersisa. Wanita itu lantas mendekatkan wajah ke permukaan bidang dada Askara. Mengendus-endus lama di sana, sebelum bergeser ke lengan, dan berakhir di bahu kokoh pria itu. Tak memuaskannya—meski sudah mengambil sampel aroma di tiga titik—dia berjinjit setinggi mungkin, supaya hidungnya dapat memeriksa harum leher pria yang bergerak otomatis merengkuh pinggangnya.

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang