Chapter 46

23.5K 1.8K 250
                                        

P E M B U K A

P E M B U K A

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Pada permukaan kaca jendela yang menyuguhkan pemandangan betapa angkuhnya gedung-gedung pencakar langit, butiran-butiran embun pagi mulai terbentuk. Mengalir dengan laju begitu lambat, membentuk pola berliku tak beraturan. Seolah-olah sedang menggambarkan suasana intim sepasang kekasih di atas ranjang; saling mendekap menjaga kehangatan, tak biarkan udara dingin dari luar mencuri kehangatan milik mereka. 

Di atas ranjang empuk, Miura Nara meringkuk dalam dekapan pria yang lebih muda. Tubuh kecilnya menempel tanpa celah ke si jangkung, menyatu dengan kehangatan yang selalu menjadi pengantar, sekaligus teman tidur terbaik. Kepalanya bersandar nyaman di dada bidang dengan detak berirama menenangkan. Satu-satunya nyanyian penuh kasih yang mampu meredakan riuh di kepala, dalam setiap malam panjangnya. Lebih dari itu, tenang yang ditawarkan, ampuh meluruhkan segala keresahan. Membuatnya dapat merasakan nikmatnya tidur nyenyak—hal yang jarang sekali didapat sebelum ada Askara.

Tanpa kata, lengan kokoh yang melingkar penuh kelembutan, adalah jaminan perlindungan yang Askara berikan. Sehingga selama lelap, Miura tidak perlu mengkhawatirkan perihal apapun. Sebab ada Askara yang tidak akan membiarkan apapun mengusiknya.

Di bawah selimut yang menjadi tempat mereka bernaung, keduanya menggeliat bersama, sebab terusik oleh dering dua ponsel di dekat bantal. Dimana dering berisik yang tercipta, menyelinap masuk ke dalam kesadaran Askara dan Miura. Memaksa sepasang kekasih itu untuk memberi perhatian pada gawai milik masing-masing.

Alih-alih melakukan sesuatu guna membungkam suara berisik alarm, Askara yang baru saja merengkuh bahu kecil Miura, justru menarik perempuan itu. Membawanya kembali dekat—sebab saat menggeliat, sempat menambah bilangan jarak. Sedangkan Miura yang masih enggan terjaga, membiarkan dirinya terjerat dekap hangat pria yang baru saja menggunakan tungkai panjangnya, untuk mengunci pergerakannya.

Di waktu bersamaan—tanpa ada yang memberi aba-aba—keduanya kompak terjaga, namun masih dalam keengganan untuk beranjak dari rasa nyaman. Memilih untuk saling memandang, bicara dengan bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka. Kemudian sama-sama melempar senyum penuh rasa syukur saling memiliki. Juga jenis senyum yang mengandung makna penuh cinta tanpa perlu banyak kata tuk menjelaskan bagaimana besarnya. 

Usai menyusuri punggung Miura, jemari hangat Askara beranjak menuju pipi. Elus-elus pipi sang kekasih, sebelum punggung tangannya dibawa ke dahi perempuan yang begitu disayangi.

"Syukurlah, Kak Miumiu nggak demam," ungkap yang lebih muda dengan sorot melembut, begitu memeriksa suhu tubuh kekasihnya. Sisa-sisa kekhawatiran semalam, lenyap dalam sekejap. Dia pun merasa bermanfaat, sebab usahanya tidak sia-sia. Meski hanya perlakuan kecil—sebatas mengeringkan rambut, membalur minyak angin, memakaikan kaus kaki, serta menjaga kehangatan—namun berhasil mencegah demam. "Semalem aku sebenernya khawatir banget sama kondisi Kakak, cuma lagi ngambek, jadi nggak bisa terlalu nunjukin."

Double TroubleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang