Bab 63

1K 139 14
                                        

Aku turun dari mobil yang di kendarai kak aldo yang berhenti tepat di depan lobby RS.

"Tempat parkir khusus karyawan ada di basmant lt. B. Kakak bisa memarkirkan mobil ku disana, aku masuk duluan kak" ucapku buru-buru karna aku sudah sangat telat untuk memulai tugas jagaku di bangsal UGD.

Ini adalah hari terakhir ku membantu di bangsal ini, pasalnya pihak rumah sakit sudah mendapatkan dokter baru yang akan bertugas di sana, walaupun dia hanya dokter intern.

Aku sedikit heran dengan itu, kemaren pihak rumah sakit kekeh tak mau menempatkan dokter intern, tapi hanya dengan beberapa hari mereka sudah berubah pikiran saja.

Tapi bagus lah, aku jadi tidak harus melakukan double shift lagi sekarang.

Aku berjalan tergesa-gesa memasuki bangsal UGD, meletakan tas jinjingku di loker ruang istirahat dokter, mengganti baju luar ku dengan baju scrub berwana biru tua dan jubah putih dokter lalu mengalungkan stetoskop di leher. Aku pun siap bertugas hari ini.

"Semuanya aman?" Tanya ku ke seorang perawat yang sedang berjaga di loket bangsal.

"Aman dok, hanya ada beberapa pasien yang harus di perhatikan sebelum mereka mendapatkan kamar perawatan"

"Baiklah" jawabku lega dan duduk di samping perawat tersebut.

Sambil mengisi waktu luangku, aku membaca sebuah buku tentang prosedur pembedahan pembuluh darah,    masih banyak yang harus aku pelajari jika ingin lulus dalam 2 tahun ini.

Saat aku sedang fokus mengamati gambar tentang susunan otot yang melekat di pembuluh darah. Ada seorang perawat yang mendorong brankar pasien memasuki ruangan dan di ikuti oleh beberapa laki-laki bertubuh tinggi dan tegap.

Aku menaruh buku yang ada di tangan ku dan berlari mengikuti brankar yang di dorong masuk ke salah satu bilik yang tersedia di bangsal UGD

"Silahkan tunggu di luar" ucapku sebelum menutup tirai bilik.

"Saya seorang polisi" ucapnya menunjukan tanda pengenal.

"Saya harus mendampingi, dia adalah pelaku pengedaran narkoba yang sudah kami incar selama lebih dari 2tahun"

"Baiklah, tapi hanya 1 orang saja yang masuk" ucap ku tegas sambil memakai sarung tangan medis

"Apa yang terjadi padanya?" Tanya ku memakai stetoskop ku di telinga dan memeriksa dada pasien yang berlumuran darah.

"Dia terjatuh dari lantai satu dan ada 2 luka tembak di dada kirinya"

"Bawakan beberapa botol infus dan alat bedah ringan" ucapku pada salah satu perawat.

"Baik dok" perawat itupun keluar ruangan dan perawat yang lainya memasang alat bantu nafas ke pada pasien. Sedangkan aku memeriksa tubuh pasien.

Tak butuh waktu lama, perawat itu pun kembali.

"Gunting bajunya"

"Cek golongan darah pasien dan bawakan beberpa kantong darah kesini" perintah ku ke 2 orang perawat.

Aku mengambil botol infus dan menumpahkanya di luka tembak yang ada di bagian dada kiri pasien.

"Kassa" ucap ku menengadahkan tangan ke arah perawat lalu mulai membersihkan darah di sekitar luka tembak.

Saat 2 luka tembak sudah bersih dari darah dan benda asing lainya, aku mengganti sarung tangan medisku dengan yang baru.

Aku memulai prosedur penangan luka tembak dengan menganastesi daerah sekitar luka.

"Mess" pintaku pada perawat yang berdiri di sampingku.

Dia pun meletakan pisau bedah di tangan kanan ku, dan aku mulai membuat sayatan di atas luka tembak.

MY BAD GIRLFRIENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang