Di jam 00.45 anin baru menyelesaikan oprasi di akhir shiftnya. 1 jam 45 menit lewat dari jam pulang kerja yang seharusnya. Namun ini sudah jadi kebiasaan untuk semua tenaga medis yang selalu pulang di atas jam kerjanya.
Ia berjalan lunglai menuju ke ruang istirahat dokter. Kakinya terasa pegal setelah berdiri hampir 5 jam.
Anin memang tak cukup andil dalam oprasi itu, namun profesor penanggung jawabnya meminta untuk mengamati Oprasi perbaikan anuerisma aorta asendens. Ini adalah pengalaman pertamanya untuk kasus di pembuluh darah.
Oprasi itu memang cukup rumit, bahkan memerlukan 2 dokter spesialis sekaligus. Sebenarnya pasien itu bukan dari bangsal bedah toraks, melainkan dari bangsal kardiologi.
Profesornya di minta membantu untuk mengurangi kemungkinan adanya gagal jantung saat oprasi berlangsung.
'Ini sungguh melelahkan, mataku panas, betisku kram, hauss' batin anin sambil mengganti baju scrubnya
Setelah selesai memakai baju luarnya, ia pun berjalan kearah lobby rumah sakit untuk memesan taksi online.
Dia berdiri di depan lobby sambil memainkan ponselnya.
"Nunggu apa?" Tanya regie yang sudah ada di depan anin.
Anin pun mengalihkan pandanganya dari tlpon dan menatap regie heran...
'Kenapa dia masih disini' batinya
"Ayoo pulang"
"Dari tadi kamu nungguin aku?"
Regie tak menjawab ucapan anin tapi malah menggandeng tanganya dan menariknya pelan kearah mobilnya.
Anin yang sudah sangat capek pun hanya diam tanpa membantah.
"Minum ini" regie menawarkan sebotol air mineral saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Makasih"
"Sudah makan??" Tanya regie sambil menghidupkan mesin mobilnya dan menancap gasnya.
"Belum, tapi aku tak lapar"
"Kamu terlihat lelah" ucap regie melirik anin yang bersandar di kursi sambil memejamkan matanya.
"Sangat... aku baru saja melakukan oprasi selama 5 jam! Ini oprasi terlama yang pernah aku ikuti"
"Emm begitu.. ternyata jadi dokter itu melelahkan yah"
Lama tak ada jawaban apa pun dari anin, regie pun menoleh kearahnya..
"Ternyata tidur" gumam regie sambil menepikan mobilnya ke bahu jalanan.
Dia melepaskan setbeltnya, mengambil jas nya yang ada di jok belakang dan menyelimuti tubuh anin.
Regie menatap lama wajah anin yang sedang tertidur pulas, menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dan mengusap pipinya.
Tubuhnya semakin ia dekatkan ke arah anin.
Cuppp.
Sebuah kecupan mendarat di kening anin.
Regie pun kembali menjalankan mobilnya menembus jalanan ibu kota yang nampak sepi...
Tak butuh waktu lama, kini ia sampai di basment apartemenya.
Dia keluar dari mobil dengan pelan agar tak membangunkan anin. Berjalan memutari mobil dan membuka pintu di samping anin.
Dengan perlahan dan penuh perhatian, regie mengangkat tubuh anin yang masih terlelap dan membopongnya ke unit apartmenya.
Awalnya dia ragu membawa anin ke kamarnya, namun anin sangat susah di bangunkan dan malah terus memeluk tubuhnya dalam gendonganya.
Dia juga bersusah payah menidurkan anin di atas ranjangnya karna anin tak mau melepaskan pelukan di leher regie.
