Setelah bekerja seharian, akhirnya mereka berdua bisa bersantai bersama di rumah.
Regie duduk bersandar di sandaran ranjang sedangakan anin duduk bersandar di bahu regie. Mereka berdua sedang menonton film kesukaan anin.
Regie mengusap rambuat panjang anin yang tergerai dan menempelkan bibirnya di pucuk kepala anin selama mereka menonton film yang sudah berlangsung setengahnya.
"Aku laper" anin mendongak menatap regie dengan puppy eyesnya.
"Ya udh, aku ambilin buah dulu di kulkas"
"Gak mau makan buah"
"Terus maunya apa?"
"Mau bubur ayam abang-abang"
"Aninnn.. ini udah jam 9 malam, mana ada tukang bubur jam segini"
"Ya kamu cari lah, kalo perlu kamu ketok rumah abangnya trus paksa mereka jualan. Kamu ini kan ceo, masa cuma nyari bubur ayam aja gk bisa!"
"Aku bikinin bubur instan aja yah"
"Gak mauuu!"
"Anin... kamu gak ngidam aja mintanya aneh, apa lagi kalo beneran ngidam"
Anin mendengus kesal
"Hhe maaf sayang. Ok, aku pergi beli bubur dulu yah"
"Jangan pulang sampe kamu dapet buburnya!"
"Anin, kamu bercanda kan?" Tanya regie tersenyum paksa
"Apa muka ku ini keliatan bercanda!"
"Ok, aku akan cari tukang bubur sampe ke plutoo"
Regie meraih kunci mobilnya dan pergi mencari tukang bubur yang sangat mustahil berjualan di malam hari.
Selama perjalanan, dia melewati beberapa warung tenda, tapi tak ada satupun dari warung itu yang menjual bubur ayam pesanan anin.
Dia menepikan mobilnya, mulai berfikir keras sampai meremas kemudi dan beberapakali membenturkan kepalanya dengan pelan kesana.
Dia meraih ponsel di saku jaketnya dan mendial kontak chef pribadi gresan family.
"Selamat malam nona" suara dari balik telpon terdengar.
"Malam, bisakah kamu membuat bubur ayam?"
"Bisa nona, untuk kapan?"
"Sekarang. Buat jadi sama persis dengan yang di jual gerobakan, mengerti?"
"Tidak nona, maksudnya sama persis yang seperti apa?"
"Hahh!! Buat bungkusanya seperti aku beli di bubur gerobakan. Buat itu secepatnya, aku sampai harus sudah jadi!"
"Siap nona"
Regie mematikan telponya dan memutar mobilnya menuju ke kediaman keluarga besarnya.
Sebenarnya dia sangat malas kerumah itu, tapi demi anin dan demi dirinya dia pun pasrah.
Setelah mengambil bubur di kediaman keluarganya, regie bergegas kembali untuk memberikan buburnya pada anin.
Dia berjalan tergesa melewati lorong apartemen menuju ke unitnya.
"Semoga anin belum tidur" gumamnya melirik jam tangan yang sudah menunjukan pukul 23.30.
Tririri...
Dia membuka pintu aparnya, melepas sepatunya sembarang dan menaruh kunci mobil di atas meja.
"Sayang..." regie masuk kedalam kamar dengan sebungkus plastik berwarna merah di tanganya.
