Dua hari berlalu sejak Jennie memberlakukan aturan baru.
Rose mulai makan lebih banyak dan menjalani hari liburnya.
Soyaa pulang lebih cepat dari biasanya (meski wajahnya menunjukkan ia "sakiiiiit sekali menahan diri").
Jennie tampak lebih tenang karena rumah berjalan sesuai "aturan Jennie".
Namun, ada satu hal yang Jennie tidak tahu atau belum tahu.
Lavisa diam-diam mulai panik karena update software yang ia kerjakan tidak berjalan stabil. Bug kecil muncul, dan setiap kali ia memperbaikinya, ada error baru yang mengikuti.
Itu hal biasa bagi programmer, tapi... tidak bagi seorang Lavisa yang hanya punya dua jam sehari.
Hari ketiga, setelah kakak-kakaknya tertidur atau ia pikir tertidur, Lavisa membuka laptopnya perlahan, tanpa suara.
Ia memakai headset dan menarik nafas panjang.
"Cuma sebentar... cuma cek coding-nya dikit," katanya pelan.
Pada kenyataannya, itu selalu jadi lebih lama dari yang seharusnya.
Jam menunjuk pukul 11:20 malam.
Lalu 12:14.
Lalu 1:07.
Dan Lavisa masih mengetik tanpa sadar.
Lampu kamar sengaja ia redupkan agar tidak terlalu mencolok.
Atau begitulah yang ia kira.
⸻
Pintu Terbuka
Pintu kamar Lavisa terbuka pelan.
Jennie berdiri di sana, memakai hoodie putih, rambut berantakan, wajah lelah tapi mata penuh kekhawatiran sekaligus amarah yang ia tahan keras-keras.
"Lala."
Suara itu mendesis pelan, tapi cukup untuk membuat jantung Lavisa turun ke lutut.
Tangannya membeku di atas keyboard.
Ia perlahan melepas headset.
Menelan ludah.
"K–kak Nini..."
Jennie masuk perlahan, menutup pintu, lalu menatap jam digital biru di samping ranjang.
1:07 a.m.
Lavisa tahu apa artinya.
Jennie tidak berteriak. Tidak membentak.
Dan itu jauh lebih menakutkan.
"Kamu mengerjakan ini semua... empat jam lebih dari batas? Setelah aku bilang jangan begadang. Setelah aku bilang matamu harus dijaga. Setelah kamu janji, La. Kamu janji sama aku."
Lavisa menunduk dalam-dalam. "Aku... Lala cuma mau cepat selesai biar kak Nini gak khawatir lagi..."
"Khawatir?" suara Jennie pecah. "La... sekarang aku makin khawatir!"
Lavisa spontan berdiri, mencoba mendekat, namun Jennie mengangkat tangan seperti menahan.
"Apa yang kamu pikirin, hah?" suara Jennie sedikit meninggi. "Ini bukan soal software! Ini soal mata kamu! Soal kesehatan kamu! Kamu mau sakit lagi? Kamu mau penglihatan kamu makin ga jelas?"
Lavisa menggigit bibirnya sampai bergetar.
"Maaf... aku cuma... aku takut ketinggalan progress. Aku takut kak Niki kecewa kalau aku nggak bisa selesai..."
Kini Jennie terpaku.
Ada luka lama di kalimat itu.
"Jadi... kamu pikir aku cuma peduli hasil kerja kamu?" Jennie berjalan mendekat, suaranya lebih lembut tapi menyayat. "La... aku peduli sama kamu. Bukan softwarenya. Bukan progressnya."
Lavisa mengangguk, tapi air mata jatuh begitu saja.
Jennie menahan napas, ia benci sekali melihat adiknya menangis, tapi ia harus tegas.
"Laptopnya," kata Jennie lirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Different
FanfictionKeluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
