"Sayang? Kamu nyamperin aku kok gak bilang?" Sana terkejut dengan kemunculan Tzuyu yang tiba-tiba.
"Sengaja"
"Tapi kenapa? Jumat bukannya kamu flight ya ke Macau?"
"Aku kangen kamu, bisa gak sih kita baikan?"
"Maaf Tzu, aku tetep nunggu mv colab kamu"
Tzuyu mulai berjalan semakin dekat, Sana yang masih di tempat tidur dengan piyama tipisnya merasa sangat gugup.
"Kamu sayang aku gak sih?"
"Sa-sayang kok"
"Cium aku"
"Hah?"
"Kalo kamu sayang aku, cium aku sekarang juga." Tzuyu sudah ada di atas Sana menatap lekat mata indah perempuan yang terlihat gugup itu.
Sana akhirnya menarik leher Tzuyu dan mulai mencium bibir kekasihnya dengan sidikit lumatan.
Mereka akhirnya berciuman karena Tzuyu yang gak mau melepaskan bibirnya dari bibir perempuan kesayangannya itu.
"Tzu udah" ucap Sana pelan.
Nafas Sana hampir habis, tapi Tzuyu tetap gak memberinya kesempatan untuk mengambil nafas.
"Sayang."
Sana semakin gak ada tenaga setelah tangan besar Tzuyu mencekik lehernya sangat kencang.
"Aku cinta sama kamu Sana, tapi kalo kelakuan kamu kayak gini terus aku capek. Mending kamu mati aja, daripada bikin aku stres terus."
Air mata Sana membanjiri pipinya, tatapan kosong Tzuyu benar-benar membuatnya ketakutan sekaligus sedih.
"Mianhae chagiya."
Sana memejamkan matanya dan menangis sejadi-jadinya.
Detik berikutnya dia kembali membuka matanya dan langsung terduduk. Nafasnya tersenggal dengan keringat yang sudah membasahi sekujur tubuhnya.
Dalam satu kedipan mata, sosok Tzuyu hilang dari hadapannya.
"Gue mimpi?" gumamnya.
Dia mengedarkan pandangannya keseluruh kamar hotel tanpa menemukan kekasihnya disana.
"Sumpah gue cuma mimpi?"
Helaan nafas panjang keluar dari mulut Sana, dia langsung bersandar di headboard sambil menarik kembali selimut.
"Gila! Kayak nyata anjir"
"Kalopun dari awal gue sadar itu cuma mimpi, pasti gue bakalan mikir kalo itu mimpi basah. Ternyata malah horror anjir lah!"
Sana memegang kepalanya, dia mendadak pusing dengan apa yang baru aja dia alami. "Astaga. Apa iya segitu banyaknya salah gue ke Tzuyu? Sampe dia mau bunuh gue di mimpi tadi anjir?"
Diambilnya ponsel dari nakas di sampingnya, Sana kaget melihat jam yang ternyata jam 11 malam. Itu artinya dia harus cepat-cepat packing untuk terbang ke Macau menyusul para member lainnya.
Perbedaan jam membuat Sana mengalami sulit tidur, tapi sekalinya bisa terlelap dia malah mendapat mimpi buruk seperti tad.
"Hari jumat juga kan mv colab Tzuyu rilis, berarti mimpi gue tadi bisa jadi pertanda?"
"Ah entah mau gimana mv dia. Bisa gila gue lama-lama kalo mikirin dia terus."
*
"Wihh bentar lagi rilis nih, lo mau kita nobar sambil reaction gak?" tawar Jihyo.
"Mau aja kalo dibolehin agensi"
"Yaudah gampang, nanti gue tanyain ya"
"Thanks ya ka Ji, lo perhatian banget!"
Tzuyu tersenyum, para unnie nya emang selalu ngasih dia perhatian dan selalu dukung gila-gilaan. Kecuali Sana.
"Lo nulis lagu itu juga Tzu?" Kali ini giliran Chaeng yang penasaran.
"Iya, dikit sih tapi"
"Gakpapa. Sedikit apapun itu seengaknya lo nyumbang ide, ikut kontribusi juga"
Jeongyeon yang juga merasa bangga langsung menghampiri Tzuyu dan memeluknya. "Tuh kan, apa gue bilang. Adek gue emang keren-keren!"
"Okeee fix ya kita nobar! Kalian semua jangan ada yang nonton duluan, nanti Sana sama Momo gue chat biar mereka gak nonton duluan" teriak Jihyo.
"Deal!"
"Oke, nanti kalo kita udah lengkap ya. Setelah rehearsal atau setelah konser, pokoknya kita gas kalo udah acc manager unnie."
Mereka ber-7 sudah sampai di agensi dan bersiap menuju bandara untuk terbang ke Macau.
Sana dan Momo berangkat terpisah, mereka akan menyusul dari negara tempat mereka sekarang sedang bekerja.
"Oppa, apa mereka udah sampe?" tanya Sana ke salah satu managernya.
"Baru aja landing, mereka gak ngabarin kamu emangnya?"
"Aku males buka grup." Jawab Sana bohong. Lebih tepatnya dia malas cek ponselnya karena masih kepikiran mimpinya tadi. Sana tau kalo masih ada chat dari Tzuyu yang belum dia buka samapi sekarang, Sana belum membacanya sejak dia berada di NY waktu itu.
"Mv colab Tzuyu udah rilis dari tadi loh, kamu udah nonton belum?"
Sana menggelengkan kepalanya pelan. "Masa sih? Aku kira masih nanti, soalnya aku bingung sama perbedaan jam disini"
"Udah rilis beneran kok. Kamu bisa nonton dulu sebelum kita antri boarding."
Sana langsung membuka youtube dan mencari lagu Blink. Perasaannya campur aduk, dia penasaran tapi juga takut.
"Cantik banget anjir cewek gue!" jerit Sana dalam hati.
Baru beberapa detik dia nonton, tapi rasanya udah salting duluan ngeliat Tzuyu secantik itu.
"Eh eh eh apa nih kok ngedance deket banget?" ucap Sana tanpa sadar.
"Kenapa San?" tanya manager oppa.
"Ah, enggak. Ini lagi main game" lagi-lagi Sana bohong.
Dia merutuki dirinya sendiri karena keceplosan tadi.
Sana melanjutkan kembali tontonan yang seru dan menegangkan itu sampai akhir. "Loh? Mimpi? Kok sama kayak gue sih?" Sana keceplosan lagi.
"San, sumpah kamu gakpapa? Daritadi ngomong sendiri loh kamu."
Sana hanya nyengir menanggapi pertanyaan manager satunya lagi. "Lagi seru sumpah, anggap aja aku emang gila."
Kedua manager yang menemani Sana hari itu saling pandang. Sana bukan cuma terlihat gila, tapi aneh banget.
"Anjir bedanya ini cowok mimpi indah, gue dapet mimpi buruknya sialan!"
"Tapi aman sih, dia gak ada pegang-pegang cewek gue. Cuma tadi aja ngedance deket banget gitu sama pegang tangan"
"Apa gue harus chat dia sekarang ya buat minta maaf?"
Sana asik bergelut dengan pikirannya sendiri tanpa sadar kalo managernya sedang membicarakannya. "Sekarang malah ngelamun. Beneran gila kayaknya ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
I Just Wanna Be With You
Fiksi PenggemarSatzu never ending story *Cerita ini up kalo ada momen di Twice yang pas
