Malam semakin larut. Rumah benar-benar sunyi, hanya menyisakan mereka berdua dalam ruang yang hangat dan redup.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jennie masih berada dalam pelukan Jisoo Napasnya perlahan mulai teratur, tapi hatinya terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa jam sebelumnya.
Jisoo menunduk sedikit, menatap wajah jennie yang kini terlihat lebih tenang. Jari-jarinya mengusap lembut pipi Jennie, seolah memastikan bahwa ia benar-benar ada di sana.
"Masih kepikiran?" bisiknya pelan.
Jennie menggeleng kecil. "Enggak... sekarang enggak."
Jisoo tersenyum tipis. Ia mendekat, mengecup kening jenniy dengan lembut gestur sederhana, tapi penuh makna.
Jennie menutup mata sesaat, menikmati kehangatan itu.
"Terima kasih," katanya pelan.
"Untuk apa lagi?" tanya Jisoo, hampir berbisik.
"Untuk tetap milih aku... bahkan waktu semuanya terasa berantakan."
Jisoo tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Jennie lebih dalam, lalu mengangkat dagunya perlahan agar mata mereka sejajar.
"Aku nggak pernah berhenti milih kamu," ucapnya pelan.
Jarak di antara mereka semakin tipis.
Jennie tidak menjauh kali ini.
Tangannya naik, menggenggam sisi baju Jisoo, seolah mencari kepastian yang lebih nyata. Jisoo merespons dengan memeluknya lebih erat-bukan hanya sekadar kedekatan fisik, tapi juga perlindungan, penerimaan, dan cinta yang utuh.
Ciuman mereka terjadi perlahan, tanpa terburu-buru. Hangat. Dalam. Seolah semua yang belum sempat terucap akhirnya tersampaikan lewat cara itu.
Tidak ada lagi ketegangan. Tidak ada lagi keraguan.
Hanya dua orang yang saling menemukan kembali satu sama lain.
Jisoo mengusap rambut Jennie dengan lembut, sementara Jennie menyandarkan dirinya sepenuhnya, membiarkan jarak di antara mereka benar-benar hilang.
Malam itu bukan tentang hasrat semata.
Tapi tentang kedekatan yang akhirnya utuh. Tentang kepercayaan yang diperbaiki. Tentang cinta yang tetap tinggal... meski sempat diuji.
Dan dalam keheningan malam itu, mereka kembali menjadi sepasang suami istri bukan hanya karena ikatan, tapi karena pilihan yang terus mereka ambil... satu sama lain. Pagi itu datang lebih cepat dari yang mereka harapkan.
**
Sinar matahari sudah masuk cukup terang melalui celah tirai. Jam di dinding menunjukkan waktu yang... jelas sudah terlalu siang untuk ukuran keluarga kecil itu.