Suara tawa, obrolan hangat, dan langkah kaki yang hilir mudik memenuhi setiap sudut. Keluarga besar berkumpul, semua ingin melihat dan menggendong anggota baru Kim Si-woo.
Di ruang tengah, Si-woo berpindah dari satu pelukan ke pelukan lain. Semua tersenyum, memuji wajahnya, tingkah kecilnya, bahkan napas halusnya.
"Lucu sekali..."
"Mirip Jisoo..."
"Tenang banget bayinya..."
Semua perhatian tertuju padanya.
Di tengah keramaian itu, ada satu sosok kecil yang berdiri sedikit menjauh.
Kim Ji Eun.
Ia berdiri di dekat pintu, memegang boneka kesayangannya. Matanya memperhatikan dari jauh melihat Mommy nya yang sibuk, Dada nya yang tersenyum pada orang lain, dan semua orang yang mengelilingi adiknya.
Tidak ada yang salah.
Namun hatinya terasa berbeda.
Pelan-pelan, ia berjalan mendekat.
"Mom..." panggilnya.
Jennie menoleh sekilas.
"Iya, sayang... tunggu ya sebentar," jawabnya sambil tetap fokus pada Si-woo yang sedang digendong keluarga.
Ji Eun terdiam.
Ia mundur sedikit.
Beberapa menit kemudian, ia mencoba lagi.
"Dada..."
Jisoo yang sedang berbicara dengan keluarganya hanya mengusap cepat kepalanya.
"Iya, nanti ya..."
kata itu terdengar sederhana.
Tapi cukup membuat sesuatu di dalam hati kecilnya terasa jatuh.
Ia kembali ke sudut ruangan.
Duduk di lantai, memeluk bonekanya lebih erat.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku juga di sini..." bisiknya pelan, hampir tidak terdengar.
Tidak ada yang langsung menyadari.
Hingga akhirnya, eomma Jisoo yang kebetulan melirik ke arah sudut ruangan melihatnya.
Ia mengernyit pelan, lalu berjalan mendekat.
"Ji Eun..." panggilnya lembut.
Untuk pertama kalinya eomma Jisoo menyapa Ji Eun dengan lembut menatap penuh kasih sayang
Kim Ji Eun seorang anak kecil yang dulu ia benci karena telah hadir dengan cara yang salah dan Jisoo anak nya yang menjadi korban atas kesalahan itu yea ji membenci hal itu ia membenci Jennie juga anak yang di bawa nya anak yang bukan darah daging Jisoo
Ji Eun langsung menunduk, mengusap matanya cepat.
"Aku nggak nangis..."
Eomma Jisoo duduk di depannya. "Kamu kenapa di sini sendiri?"
Ji Eun tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia bicara dengan suara kecil.
"Semua orang... sama adik..."
Kalimatnya terputus.
"Terus... aku sendiri..."
Hati eomma Jisoo langsung tersentuh.
Ia menarik Ji Eun ke dalam pelukan.
"Sayang..." bisiknya.
"Halmeoni memeluk aku? Halmeoni tidak marah lagi sama Ji Eun?"lirih nya kecil
"Tidak, halmeoni tidak marah"
Ji Eun selalu merasa bahwa halmeoni nya ini marah pada nya makanya dia tidak pernah di peluk beda dengan Granny nya ibu dari Jennie yang memeluk nya setiap bertemu
Di sisi lain ruangan, Jisoo akhirnya menyadari.
Ia melihat ke arah sudut dan menemukan putrinya tidak ada di dekatnya.
"Ji Eun di mana?" tanyanya.
Jennie ikut menoleh, wajahnya langsung berubah saat melihat ke arah yang sama.
Tanpa banyak kata, mereka berdua mendekat.
Ji Eun masih dalam pelukan Halmeoni nya saat Jisoo berlutut di depannya.
"Hey..." panggilnya lembut.
Ji Eun mengangkat wajahnya, matanya merah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kamu marah sama Dada?" tanya Jisoo pelan.
Ji Eun menggeleng... tapi air matanya jatuh lagi.
"Aku... nggak diajak..." ucapnya terbata. "Semua sama adik..."
Jennie langsung merasa bersalah. Ia duduk di sampingnya.
"Sayang... Mommy minta maaf..." ucapnya pelan, suaranya penuh penyesalan.
Jisoo menggenggam tangan kecil itu.
"Dada juga minta maaf. Kita terlalu fokus sama adik... sampai lupa kalau kamu juga butuh kita."
Ji Eun menunduk.
"Aku juga mau dipeluk..." bisiknya.
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat hati kedua orang tuanya terasa perih.
Tanpa ragu, Jennie langsung memeluknya erat, meski harus berhati-hati dengan kondisinya.
Jisoo ikut merangkul dari samping.
"Kamu tetap nomor satu di hati kita," ucap Jisoo lembut.
Jennie mengangguk, mengusap rambutnya.
"Iya... kamu kakak, tapi kamu juga tetap anak kecil mommy."
Ji Eun terisak pelan, lalu memeluk balik mereka.
Beberapa saat kemudian, Jisoo berdiri dan menggendong Ji Eun.
"Tahu nggak?" katanya sambil tersenyum. "Adik itu dapat semua perhatian... karena dia belum bisa apa-apa."
Ji Eun menatapnya.
"Tapi kamu..." lanjut Jisoo, "kamu yang paling Dada banggakan."
Jennie tersenyum hangat. "Dan yang paling Mommy sayang."
Ji Eun akhirnya tersenyum kecil, meski masih ada sisa air mata di pipinya.
Di tengah keramaian itu, sebuah pelukan kecil mengingatkan mereka semua
bahwa cinta dalam keluarga bukan untuk dibagi hingga berkurang...