Beberapa hari berlalu sejak pagi penuh harapan itu. Waktu di rumah sakit masih terasa panjang, namun kini langkahnya tidak lagi seberat sebelumnya.
Di ruang perawatan, suasana mulai berubah. Bunyi alat medis yang dulu terasa menegangkan kini menjadi latar yang menenangkan tanda bahwa semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Putri kecil mereka sudah menunjukkan banyak perkembangan. Meski tubuhnya masih lemah, matanya kini bisa terbuka lebih lama. Sesekali ia menatap sekitar dengan bingung, namun ketika melihat Jisoo dan Jennie, ada ketenangan kecil yang terpancar.
"Dada..." panggilnya lirih suatu pagi.
Satu kata itu cukup membuat dunia Jisoo berhenti sejenak. Ia langsung mendekat, matanya berkaca-kaca.
"Iya, sayang... Dada di sini," jawabnya lembut sambil menggenggam tangan kecil itu.
Jennie yang berada di sisi lain tak kuasa menahan air mata. Ia mengusap kepala anaknya dengan hati-hati.
"Mommy juga di sin sayang ..."
Hari-hari berikutnya diisi dengan hal-hal kecil yang penuh makna. Jisoo dan Jennie bergantian menjaga, hampir tidak pernah meninggalkan kamar kecuali untuk hal yang benar-benar perlu.
Jisoo sering membantu menyuapi sedikit demi sedikit makanan yang mulai bisa diterima oleh putri mereka. Sementara Jennie, meski masih dalam kondisi hamil dan kadang kelelahan, tetap setia berada di samping, membacakan cerita atau sekadar mengelus tangan anaknya.
"Pelan-pelan ya... nggak usah dipaksakan," kata Jisoo setiap kali menyuapi.
Si kecil mengangguk kecil, mencoba tersenyum meski masih lemah.
Dokter dan perawat pun mulai lebih sering memberikan kabar baik. Luka-lukanya perlahan membaik, respons tubuhnya stabil, dan kekuatannya sedikit demi sedikit kembali.
Suatu sore, ketika cahaya matahari masuk lembut ke dalam kamar, putri mereka mencoba duduk dengan bantuan.
"Aku mau lihat luar..." ucapnya pelan.
Jisoo dan Jennie saling berpandangan, lalu tersenyum.
Dengan hati-hati, Jisoo membantu menopangnya, sementara Jennie merapikan bantal di belakangnya. Mereka membuka sedikit tirai, memperlihatkan langit sore yang tenang.
"Mommy... cantik..." gumam Ji Eun.
Jennie tersenyum, matanya hangat. "Iya... nanti kita lihat yang lebih cantik lagi di luar, ya."
Hari-hari pemulihan itu mungkin sederhana, namun setiap detiknya terasa berharga. Setiap senyuman kecil, setiap panggilan lirih, setiap gerakan yang kembali semuanya adalah kemenangan kecil yang mereka rayakan bersama.