Pagi datang dengan suasana yang berbeda dari biasanya.
Rumah itu tetap tenang, namun terasa ada jarak yang belum terisi. Jennie sudah bangun lebih dulu. Ia berada di dapur, menyiapkan sarapan dengan gerakan pelan. Wajahnya terlihat lelah, matanya sedikit sembab.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ia tidak benar-benar tidur nyenyak semalaman.
Beberapa saat kemudian, Jisoo keluar dari kamar anaknya. Langkahnya pelan, seolah tidak ingin membuat suasana semakin tegang. Ia melihat Jennie dari kejauhan dan hatinya langsung terasa berat.
"Pagi sayang ku, cinta ku..." ucapnya ceria namun masih hati-hati.
Jennie hanya mengangguk kecil tanpa menoleh.
"Pagi."
Jawaban singkat itu cukup untuk membuat Jisoo tahu bahwa semuanya belum selesai.
Ia mendekat perlahan. Tidak langsung bicara, hanya berdiri di samping Jennie yang sedang menuang minuman.
"Biar aku bantu," katanya pelan.
Jennie tidak menolak, tapi juga tidak merespons banyak. Ia bergeser sedikit memberi ruang.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya suara peralatan dapur yang terdengar.
Akhirnya, Jisoo menarik napas pelan.
"Sayang... kita bisa bicara sebentar?"
Gerakan Jennie berhenti. Ia terdiam, lalu mengangguk pelan tanpa menatap.
Mereka duduk di meja makan. Jisoo menatap Jennie dengan serius, namun penuh kelembutan.
"Aku minta maaf," ucapnya tanpa berputar-putar.
"Bukan karena aku melakukan sesuatu yang salah dengan dia... tapi karena aku nggak peka sama perasaan kamu."
Jennie menunduk, tangannya saling menggenggam.
"Aku lihat kamu kemarin," katanya pelan.
"Dan itu cukup bikin aku... takut."
Jisoo mengangguk.
"Aku ngerti sekarang..maaf ya."
Jennie menggeleng kecil. "Aku tahu itu cuma ngobrol biasa... tapi aku nggak bisa berhenti mikir. Aku lagi hamil... perasaanku berubah-ubah. Aku jadi gampang cemburu... gampang takut kehilangan."
Suaranya mulai bergetar.
"Aku takut... kamu berubah," lanjutnya lirih.
Kalimat itu membuat Jisoo langsung meraih tangan Jennie. Ia menggenggamnya erat, memastikan Jennie merasakan kesungguhannya.
"Aku nggak akan ke mana-mana," ucapnya tegas tapi lembut.