62

170 39 0
                                        


































Malam kembali turun di rumah sakit, membawa suasana yang sunyi namun terasa menekan. Lampu-lampu lorong menyala redup, dan suara langkah kaki perawat sesekali terdengar memecah keheningan.

 Lampu-lampu lorong menyala redup, dan suara langkah kaki perawat sesekali terdengar memecah keheningan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jennie duduk terdiam. Pandangannya kosong, pikirannya dipenuhi bayangan kejadian sore tadi. Tangannya saling menggenggam, dingin dan sedikit gemetar.

Sejak kabar kondisi putri mereka dinyatakan stabil, seharusnya ada rasa lega. Namun bagi Jennie, ketenangan itu belum benar-benar datang. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan itu kembali muncul membuat dadanya terasa sesak.

Ia bahkan tidak menyentuh makanan yang sejak tadi disiapkan Jisoo.

"Sayang... makan dulu, ya," ujar Jisoo pelan, duduk di sampingnya sambil menyodorkan kotak makanan.

Jennie menggeleng lemah.

"Aku nggak lapar..."

Jisoo menatapnya penuh khawatir. "Kamu dari tadi belum makan sama sekali."

"Aku nggak bisa..." suaranya pelan, hampir berbisik.

Beberapa detik berlalu dalam diam. Tiba-tiba, Jennie meringis kecil. Tangannya refleks memegang perutnya.

"Ah..." napasnya tertahan.

Jisoo langsung panik.

"Kenapa? Sakit?"

Jennie mengangguk, wajahnya berubah pucat. "Perutku... kram..."

Jisoo segera mendekat, menopang tubuh Jennie agar lebih nyaman.

"Coba tarik napas pelan- pelan, ya ....aku panggilkan dokter ya "

"Ga usah aku gapapa kok cuma kram sedikit"

Tangannya mengusap lembut punggung Jennie dan tangan satunya juga mengusap perut Jennie berusaha menenangkannya.

"Kamu kecapekan... dan belum makan," ucapnya dengan nada lembut namun tegas.

"Nggak boleh seperti ini, kamu juga harus jaga diri."

Air mata Jennie jatuh lagi.

"Aku takut... aku nggak bisa mikir apa-apa selain Ji Eun..."

Jisoo menggenggam tangannya erat.

"Aku juga takut," jawabnya jujur.

"Tapi kita harus tetap kuat. Bukan cuma untuk Ji Eun... tapi juga untuk yang satu ini anak kita yang belum melihat dunia"

Perlahan, ia mengarahkan tangan Jennie ke perutnya sendiri.

Jennie terdiam, napasnya masih belum stabil.

"Kita lagi jaga dua sekaligus," lanjut Jisoo lembut. "Aku butuh kamu tetap kuat... mereka juga butuh kamu."

Kata-kata itu perlahan menembus kegelisahan Jennie. Ia menutup mata, mencoba mengatur napasnya.

AKU bukan DIA [Jensoo] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang