Jennie mengantar Ji Eun seperti biasa-tapi "biasa" kini terasa berbeda. Matanya lebih sering bergerak, memperhatikan sekitar, seolah setiap sudut bisa menyimpan ancaman.
"Mom, ji Eun masuk ya," kata ji Eun sambil melambaikan tangan.
Jennie memaksakan senyum. "Iya... hati-hati ya."
Ji Eun masuk ke gerbang sekolah.
Jennie belum pergi.
Kakinya seperti tertahan.
Ia berdiri di sana, memeluk tasnya sendiri, mencoba menenangkan perasaan yang sejak beberapa hari ini tidak pernah benar-benar hilang.
Dan saat ia berbalik-
Langkahnya terhenti.
Jantungnya langsung berdegup keras.
Di seberang jalan, berdiri seorang pria.
Menatapnya.
Tidak asing.
Sangat tidak asing.
Waktu seakan berhenti.
"Ruby..."
Suara itu.
Suara yang sudah lama ingin ia lupakan.
Jennie langsung membeku. Tangannya mengepal.
"Apa yang kamu lakukan di sini..." suaranya dingin, tapi jelas bergetar.
Pria itu melangkah mendekat perlahan. Wajahnya lebih dewasa sekarang, tapi tatapannya masih sama.
"Aku cuma ingin lihat anakku," katanya.
Kalimat itu langsung menghantam.
Jennie tertawa kecil-sinis. "Anakmu?"
"Aku ayahnya," jawabnya tenang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jennie mendekat selangkah, matanya mulai berkaca-kaca-bukan karena lemah, tapi karena emosi yang lama terkunci akhirnya keluar.
"Di mana kamu waktu aku hamil?" tanyanya tajam. "Di mana kamu waktu aku sendirian?"
Pria itu terdiam sejenak. "Aku punya alasan-"
"Aku nggak butuh alasan!" potong Jennie, suaranya meninggi. "Aku butuh kamu waktu itu. Tapi kamu pergi!"
Beberapa orang mulai melirik.
Tapi Jennie tidak peduli.
"Sekarang kamu datang... dan bilang dia anakmu?" lanjutnya, suaranya pecah. "Setelah semuanya aku lalui sendiri?"