Malam setelah kepergian Hoyeon terasa jauh lebih panjang dari biasanya.
Rumah itu sunyi, tapi bukan sunyi yang menenangkan melainkan sunyi yang penuh pikiran yang belum selesai.
Ji Eun sudah tertidur lebih cepat, mungkin lelah dengan suasana yang tidak ia mengerti. Jisoo duduk di ruang tamu, mencoba membaca sesuatu di ponselnya, tapi sejak tadi tidak ada satu pun yang benar-benar ia pahami.
Dari dapur, terdengar suara piring yang sedikit lebih keras dari biasanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jisoo menoleh. Ia tahu, ini bukan sekadar aktivitas biasa.
Ia bangkit perlahan dan berjalan ke dapur.
Jennie berdiri di sana, mencuci piring yang sebenarnya sudah bersih. Gerakannya cepat, terlalu cepat. Bahunya tegang.
"Jen" panggil Jisoo pelan.
"Kalau sudah selesai, taruh saja di sana," jawab Jennie tanpa menoleh.
Nada suaranya datar. Terlalu datar.
"Aku bisa bantu," kata Jisoo mencoba mendekat.
"Nggak usah."
Jawaban itu cepat. Tegas.
Jisoo terdiam sejenak. "Kamu marah?"
Jennie akhirnya berhenti. Air keran masih mengalir. Ia menutupnya perlahan, lalu berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya berbalik.
Matanya sudah basah.
"Aku harusnya ngerasa apa, Ji?" suaranya pelan, tapi bergetar. "Senang? Bangga? Atau pura-pura nggak terjadi apa-apa?"
Jisoo menarik napas dalam. "Aku sudah jelasin..."
"Belum," potong jrnniey. "Kamu belum jelasin semuanya."
Hening.
Jennie melangkah mendekat. "Satu datang, bilang hampir menikah sama kamu. Satu lagi datang, bilang masih nunggu kamu. Dan kamu... berdiri di tengah-tengah semuanya seolah itu hal biasa."
"Aku nggak pernah anggap itu biasa," jawab Jisoo, kali ini lebih serius.
"Tapi kamu juga nggak pernah cerita," balas Jennie.
"Aku tahu mereka bukan siapa-siapa sekarang. Tapi mereka pernah jadi sesuatu buat kamu. Dan aku baru tahu... dari mereka, bukan dari kamu."
Kata-kata itu menusuk.
Jisoo terdiam.
Jennie tertawa kecil, pahit. "Aku jadi mikir... sebenarnya aku ini siapa di hidup kamu? Pilihan terakhir? Atau cuma orang yang datang di waktu yang tepat?"
"Jangan ngomong gitu," kata Jisoo cepat.
"Kenapa? Takut itu benar?" Jennie menatap langsung ke matanya.