58

230 56 1
                                        
























Siang hari di kantor terasa sibuk seperti biasa. Suara ketikan keyboard, dering telepon, dan percakapan rekan kerja memenuhi ruangan. Jisoo duduk di mejanya, menatap layar komputer dengan serius, berusaha menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.

 Jisoo duduk di mejanya, menatap layar komputer dengan serius, berusaha menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Namun di tengah kesibukan itu, pikirannya tiba-tiba melayang. Bayangan Jennie muncul begitu saja wajahnya yang sedikit pucat menahan mual pagi tadi, senyumnya yang tetap hangat meski tubuhnya tidak nyaman, dan cara lembutnya melayani sarapan.

Jisoo menghela napas pelan. Rasa rindu itu datang begitu kuat dan tiba-tiba.

Tanpa berpikir panjang, ia meraih ponselnya dan segera menelepon Jennie.

"Hallo..." suara Jennie terdengar pelan di seberang, sedikit lemah.

Jisoo langsung merasa khawatir. "Sayang, kamu lagi apa? Kamu nggak apa-apa?"

Terdengar jeda sejenak, lalu suara Jennie yang tertahan.

"Aku... tadi sempat mual lagi. Sekarang masih agak pusing."

Jisoo menutup matanya sejenak, merasa bersalah karena tidak bisa berada di sampingnya.

"Kamu sudah makan? Minum? Istirahat ya, jangan dipaksakan."

"Aku sudah coba, kok... tadi sempat muntah," jawab Jennie jujur, suaranya pelan namun tetap berusaha tenang.

Jisoo terdiam, hatinya terasa hangat sekaligus cemas. Ia ingin sekali pulang, ingin berada di rumah, menemani Jennie melewati fase kehamilan kedua yang tidak mudah ini.

Tiba-tiba Jennie berbicara lagi, kali ini dengan nada sedikit lebih ringan.

"Tapi... aku barusan pegang baju kamu yang tadi kamu pakai," katanya pelan.

Jisoo tersenyum kecil, meski matanya masih penuh kekhawatiran.

"Oh ya?"

"Iya... aku cium aromanya. Entah kenapa jadi lebih tenang. Mualnya juga sedikit berkurang," lanjut Jennie dengan suara yang mulai terdengar lebih lega.

Jisoo tertawa kecil, hangat. "Berarti aku harus sering-sering ninggalin baju ya di rumah."

"Boleh... tapi orangnya juga harus cepat pulang," balas Jennie manja.

"Pasti. Nanti aku pulang lebih cepat," janji Jisoo lembut.

Di tengah hiruk pikuk kantor, percakapan singkat itu menjadi jeda yang begitu berarti bagi Jisoo. Rasa rindunya sedikit terobati, dan hatinya kembali tenang setelah mendengar suara Jennie yang mulai membaik.

"Sabar ya, sayang. Jaga diri baik-baik. Aku di sini kerja yang benar, biar cepat pulang ke kalian," ucapnya tulus.

"Iya... hati-hati juga di sana," jawab Jennie lembut.

AKU bukan DIA [Jensoo] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang