Hari-hari terus berjalan, penuh dengan rutinitas baru, tawa kecil, dan sesekali tangisan Si-woo di malam hari. Di balik semua itu, tanpa sepengetahuan Jennie, Jisoo mulai merencanakan sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu untuk masa depan mereka.
Beberapa minggu terakhir, Jisoo sering pulang sedikit lebih larut. Bukan karena lembur semata, tapi karena ia diam-diam mengurus satu hal penting rumah baru.
Sebuah rumah yang cukup besar.
Nyaman.
Dan hangat untuk keluarga mereka yang kini terus bertambah.
Suatu sore, setelah memastikan Jennie dan anak-anaknya dalam keadaan baik, Jisoo pergi dengan alasan sederhana.
"Aku ada urusan sebentar, ya," katanya.
Jennie hanya mengangguk. "Jangan lama-lama..."
Jisoo tersenyum. "Nggak akan."
Namun kali ini, tujuannya bukan kantor.
Ia berhenti di depan sebuah rumah besar dengan halaman luas, taman kecil di depan, dan jendela-jendela tinggi yang memantulkan cahaya sore.
Jisoo berdiri sejenak di luar pagar.
Menatap.
Membayangkan.
Di halaman itu... Ji Eun berlari kecil sambil tertawa.
Di teras... Jennie duduk sambil mengelus perutnya dulu, kini sambil menggendong Si-woo.
Di dalam rumah... suara tawa, langkah kaki kecil, dan kehangatan keluarga.
Ia menarik napas panjang.
"Ini rumah kita nanti..." bisiknya pelan.
Beberapa hari kemudian, semua urusan selesai.
Dan tibalah hari yang ia siapkan.
Pagi itu, Jisoo mendekati Jennie dengan senyum yang sedikit misterius.
"Hari ini... kita keluar sebentar ya," katanya.
Jennie mengerutkan kening. "Ke mana lagi?"
Jisoo hanya tersenyum. "Percaya aja."
Jennie menghela napas kecil, tapi tetap menurut.
Mereka pun berangkat bersama Jisoo menyetir, Jennie di samping sambil menggendong Si-woo, dan Ji Eun di kursi belakang yang tampak penasaran.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.